Contoh Proposal PTK

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar “baca tulis hitung”, pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa yang sesuai dengan tingkat perkembangannya serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SLTP. Terkait dengan tujuan memberikan bekal kemampuan dasar “baca tulis” maka peranan pengajaran Bahasa Indonesia di SD menjadi sangat penting. Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya pada tahap keberwacanan (di kelas I dan kelas II) tetapi juga pada tercapainya kemahiran wacanan (di kelas-kelas tinggi atau kelas III sampai kelas VI SD).

Hakikatnya belajar bahasa adalah belajar komunikasi, oleh sebab itu pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis (Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP Kelas II, 1994:20).

Belajar Bahasa Indonesia siswa harus menguasai empat keterampilan berbahasa, yaitu: keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) yang mempunyai peran penting adalah aspek keterampilan menulis (Zuchdi, 1997:100). Sedangkan menurut Ary (2004) tersedia dalam http://pikiran rakyat.net., kegiatan berbahasa tersulit adalah menulis. Sebab, menulis ini tidak hanya melibatkan representasi grafis pembicaraan, tetapi juga pengembangan dan presentasi pemikiran secara terstruktur.

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasaan yang harus dimiliki oleh para siswa yang sedang belajar mulai tingkat pendidikan dasar (SD) sampai perguruan tinggi (PT). Keterampilan menulis sifatnya fungsional bagi pengembangan diri untuk kehidupan masyarakat. Menurut Harris (1988) tersedia dalam http://pakguruonline.pendidikan.net., membuat kalimat termasuk ke dalam kegiatan untuk keterampilan menulis, karena itu membuat kalimat juga berarti mengungkapkan ide dan berkomunikasi dengan orang lain melalui simbol-simbol bahasa. Dalam membuat kalimat perlu memperhatikan dua hal, yaitu substansi dari hasil tulisan (ide yang diekspresikan) dan aturan struktur bahasa yang benar (grammatical form and syntactic pattern). Unsur-unsur pembentuk kalimat seperti subyek, predikat, obyek dan keterangan dengan benar dan jelas bagi pembaca, mengungkapkan gagasan utama secara jelas, membuat teks koheren, sehingga orang lain mampu mengikuti pengembangan gagasan serta memperkirakan pengetahuan yang dimiliki target pembaca.

Data menunjukkan bahwa kemampuan siswa membuat kalimat tanya Bahasa Indonesia sangat memprihatinkan atau masih rendah, yaitu dari 29 siswa hanya 12 siswa yang mendapat nilai 70 setelah diadakan tes awal kemampuan siswa dalam membuat kalimat Bahasa Indonesia pada tanggal 12 Februari 2008 atau hanya 41% siswa yang memenuhi KKM.

Rendahnya kemampuan siswa dalam membuat kalimat tanya Bahasa Indonesia ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: kurangnya latihan yang diberikan guru, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas kurang bervariasi dan kurangnya tugas yang diberikan oleh guru.

Nursidik K. (2007) dalam http://howitzer’ssitenet.,.karakteristik  usia SD senang bermain. Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih-lebih untuk kelas rendah. Permainan menurut Carrier (1982) tersedia dalam http://pakguruonline.pendidikan.net., mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi guru bahasa, sebab permainan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bahasa tertentu dengan situasi yang tidak terlalu formal. Sedangkan menurut Hadfield (1984) tersedia dalam http://pakguruonline.pendidikan.net., permainan merupakan aktivitas yang mempunyai tujuan dan elemen kesenangan. Menurut Frieda (2007) seorang staf pengajar psikologi UI dalam acara Forum  Nasional di Depok tersedia di http://kategoriberita.net., pada saat melakukan permainan  terlihat gembira dan tertawa. Tertawa sebelum belajar adalah bukan sesuatu hal yang buruk. Suasana gembira justru membangkitkan semangat . Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, dalam Quantum Learning, membahasakan kegembiraan itu dengan terbangunnya emosi positif. Emosi positif akan membuat otak dapat bekerja secara optimal (Hernowo, 2007:27). Menurut Meier dalam Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Mengajar Secara Menyenangkan oleh Hernowo (2007), pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dapat membawa perubahan terhadap diri si pembelajar.

Berdasarkan latar belakang di muka, maka peneliti berkeinginan melakukan PTK dengan judul “Meningkatkan Keterampilan Membuat Kalimat Tanya Pada Siswa Kelas III Melalui Permainan Kartu di SD Negeri **********”. peneliti ingin mencoba mengubah tradisi lama ke arah yang lebih baru, kondusif dan komunikatif.

 

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di muka, maka peneliti ini akan berfokus pada hal-hal yang bekaitan dengan permainan kartu untuk mengefektifkan pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga secara khusus dapat meningkatkan keterampilan membuat kalimat tanya pada siswa kelas **** di Sekolah Dasar. Kejelasan fokus penelitian ini akan tampak dalam pertanyaan penelitian dan tujuan berikut ini.

  1. Pertanyaan Penelitian
  1. Apakah penggunaan Permainan Kartu dalam pembelajaran dapat memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia?
  2. Apakah penggunaan Permainan Kartu dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan membuat kalimat Tanya Bahasa Indonesia pada siswa kelas **** SDN ***********?

 

 

  1. Tujuan Penelitian

Fokus penelitian di atas dapat dirumuskan sebagai berikut.

  1. Meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui permainan kartu.
  2. Meningkatkan keterampilan membuat kalimat Tanya Bahasa Indonesia melalui permainan kartu pada siswa kelas **** SDN ************
  1. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini dapat memberikan konstribusi dan mamfaat.

  1. Bagi Siswa

Penelitian ini dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam berbahasa khususnya keterampilan membuat kalimat tanya. Selain itu, melalui permainan kartu siswa termotivasi dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia. Menghilangkan anggapan bahwa belajar bahasa itu membosankan.

  1. Bagi Guru

Penelitian ini dapat memacu guru agar lebih kreatif dalam menggunakan metode pembelajaran dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran.

 

 

 

 

  1. Bagi Sekolah

Penelitian ini dapat meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sekolah dapat meningkatkan fasilitas pembelajaran yang dibutuhkan siswa dan guru.

  1. Batasan atau Penegasan Istilah

Menghindari terjadinya kesalahan penafsiran istilah dalam memahami inti masalah dalam penelitian ini, ditegaskan arti dari beberapa istilah yang digunakan. Adapun istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Meningkatkan adalah proses upaya-upaya kegiatan yang dilakukan supaya terjadi suatu perubahan ke arah yang lebih baik dan atau bertambahnya sesuatu perubahan dari segi jumlah/kuantitas.
  2. Keterampilan adalah kecakapan atau kemampuan melakukan sesuatu tugas pada siswa.
  3. Membuat adalah mengadakan (menghasilkan, menjadikan) sesuatu benda (Barang, dsb).
  4. Kalimat adalah satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik atau turun.
  5. Tanya adalah permintaan keterangan (penjelasan).
  6. Pembelajaran adalah suatu kegiatan guru dalam memilih menetapkan, mengembangkan metode/strategi yang optimal untuk mencapai hasil belajar siswa yang diinginkan.
  7. Permainan adalah perbuatan yang dilakukan dengan tidak bersungguh-sungguh atau biasa saja.
  8. Kartu adalah kertas yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran yang relatif sesuai kebutuhan dan tujuan pembelajaran yang terdiri dari: kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata, dan kartu kalimat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  1. A. Kajian Teori
    1. 1. Pembelajaran Humanistik

Belajar lebih dari sekedar mengingat. Bagi siswa untuk dapat benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan, mereka harus belajar untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri, dan selalu bergaul dengan ide-ide. Tugas pendidikan tidak hanya menuangkan sejumlah informasi ke dalam benak siswa, tetapi mengusahakan menanamkan konsep yang penting dalam diri siswa.

Pandangan tentang pembelajaran Humanistik, ada 3 yaitu:

  1. Pandangan Progresif

Pandangan progresif memfokuskan kepada anak sebagai orang yang mau belajar daripada sebagai subyek belajar. Masyarakat pendidikan menghendaki agar pengajaran memperhatikan minat, kebutuhan dan kesiapan anak untuk belajar, dan dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah. John Dewey sebagai tokoh progresif memandang siswa sebagai makhluk sosial yang aktif dan ingin memahami lingkungan di mana siswa berada, lingkungan kehidupan manusia secara personal maupun kolektif (sosial).

Selengkapnya ada DISINI

About these ads

3 responses to “Contoh Proposal PTK

  1. Thanks semoga Amaliah dan care anda terhadap generasi anak bangsa menjadi driving force anda di dalam meminij deposito akhirat………………………………………….

    q masi pgen idup lebih lama lg mas……hehehehheheheh

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s