proposal PKP

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pecahan merupakan konsep yang sangat penting untuk dikuasai oleh siswa, sebagai bekal untuk mempelajari bahan matematika dan bahan bukan matematika yang terkait. Kenyataan lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan memahami pecahan dan operasinya, dan banyak pula guru sekolah dasar menyatakan mengalami kesulitan untuk mengajarkan pecahan dan bilangan rasional. Para guru cenderung menggunakan cara yang mekanistik, yaitu memberikan aturan secara langsung untuk dihafal, diingat dan diterapkan. Secara empirik mereka selalu menggunakan cara yang sama dari waktu kewaktu .

Tidak mudah untuk membawa para siswa mampu memahami konsep dan makna pecahan. Ini berarti bahwa pembelajaran pecahan memerlukan perhatian, kesungguhan, keseriusan, ketekunan, dan kemampuan profesional. Oleh karena itu, para guru perlu menggunakan dan memanfaatkan benda–benda manipulatif dalam keadaan yang realistis disekitar kehidupan dan lingkungan siswa. Sehingga siswa mempunyai pengalaman memanipulasi sendiri benda–benda untuk memahami konsep–konsep dan makna pecahan dengan baik. Dengan pengalaman yang realistik, siswa dengan keadaan sekitar kehidupan dan lingkungan mereka, akan merasa bahan matematis yang diberikan mempunyai kaitan nyata dan manfaat dengan situasi yang mereka alami setiap hari .

Pada hari $$$$$$$$$$$$ penulis melakukan pembelajaran di kelas $$$$$$$$$$$$$$, tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan. Dari hasil pembelajaran tersebut ternyata menghasilkan nilai yang kurang memuaskan,. Dari 20 siswa hanya 8 siswa yang tuntas pembelajaran dan 12 siswa belum tuntas pembelajaran atau 40% siswa tuntas pembelajaran dan 60% siswa belum tuntas pembelajaran. Dari hal tersebut, penulis menemukan dua permasalahan pokok yang diperoleh dari teman sejawat yaitu siswa  kurang memperhatikan pelajaran dan cara mengajar guru yang lebih banyak ceramah dari pada melibatkan keaktifan siswa.

Akhirnya penulis melakukan perbaikan pembelajaran dengan lebih banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini lebih difokuskan proses belajar mengajar tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas $$$$$$$$$$$$$$ dalam bentuk PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dengan judul “ Penerapan strategi Numbered heads together untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas $$$$$$$$$$$$$$

  1. B. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang permasalahan di atas, maka permasalahan yang akan diteliti dalam PTK (Penelitian Tindakan Kelas) ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.  Apakah penerapan strategi numbered heads together pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan pecahan  dapat meningkatkan hasil belajar siswa?

2. Bagaimana partisipasi siswa terhadap pembelajaran dengan strategi numbered heads together ?

C. Tujuan Penelitian

Setelah mengidentifikasi terhadap masalah-masalah yang ada, maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan menerapan strategi numbered    heads together pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan pecahan.

2. Untuk mengetahui partisipasi siswa terhadap pembelajaran dengan strategi numbered heads  together.

D. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai berikut :

  1. Memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya guru.
  2. Penelitian membuat lebih percaya diri karena mampu membuat berkembang sebagai pekerja profesional.
  3. Guru mendapatkan peran aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan sendiri.
  4. Sebagai tolok ukur kemempuan memahami materi mahasiswa.
  5. Mengaplikasikan materi selama kuliah di Universitas Terbuka.
  6. Sebagai pertimbangan atau perbandingan bagi pembaca tentang masalah yang yang dihadapi.
  7. Sebagai sumbangan bagi dunia pendidikan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Karakteristik Pembelajaran Numbered Heads Together

Pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya yang mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan sehari-hari (Konteks pribadi, sosial, kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditranfer) dari satu permasalahan / konteks kepermasalahan / konteks lainnya.

Salah satu pembelajaran kontekstual adalah numbered heads together. Langkah-langkah dalam pembelajaran numbered heads together adalah 1) Siswa dibagi dalam kelompok, setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda, dan masing-masing kelompok mengerjakannya, 2) Guru memberikan tugas, diupayakan setiap kelompok mendapat tugas yang bebeda, dan masing-masing kelompok mengerjakannya, 3) Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar, tiap anggota kelompok mencatat hasil diskusi, 4) Setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab dan kesempatan yang sama untuk melaporkan hasil diskusinya, 5) Guru memanggil salah satu nomor siswa dalam kelompok tertentu untuk melaporkan hasil diskusi, 6) Tanggapan dari teman yang lain, 7) Selanjutnya guru menunjuk nomor yang lain di kelompok lain dengan tugas yang berbeda, 8) Guru menyimpulkan dan mengklarifikasi.

B. Pembelajaran PAIKEM Menentukan Proses dan Hasil Belajar

Prinsip belajar merupakan ketentuan/hukum yang harus dijadikan pegangan didalam pelaksanaan pembelajaran. Sebagai suatu hukum prinsip belajar akan sangat menentukan proses dan hasil belajar.  Prinsip belajar tersebut antara lain motivasi,perhatian,aktifitas,unpan balik dan perbedaan individu.

  1. Motivasi

Motivasi berfungsi sebagai motor penggerak aktivitas. Bila motornya tidak ada maka aktifitas tidak akan terjadi. Motornya lemah akhirnya yang terjadipun lemah pula.

Motivasi belajar berkaitan erat dengan tujuan yang hendak dicapai oleh individu yang sedang belajar itu sendiri. Bila orang yang sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak dicapai berguna atau bermanfaat baginya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat. Motivasi belajar seperti itu disebut motivasi belajar intrinsik atau motivasi internal. Jadi munculnya motivasi intrinsik dalam belajar, karena siswa ingin menguasai kemampuan yang terkandung dalam pembelajaran.

  1. Perhatian

Perhatian adalah pemusatan energi psikis (fikiran dan perasaan) terhadap suatu obyek.  Makin terpusat perhatian pada pelajaran, proses belajar makin baik, dan hasilnya akan baik pula. Oleh karena itu, guru harus berusaha supaya perhatian siswa terpusat dalam pelajaran. Memunculkan perhatian seseorang pada suatu obyek dapat diakibatkan oleh dua hal. Pertama, Orang itu merasa bahwa obyek itu punya kaitan dengan dirinya; umpamanya kebutuhan, cita-cita, pengalaman bakat, minat. Kedua, Obyek itu sendiri dipandang memiliki sesuatu lain dari yang lain, atau yang lain dari yang sudah biasa , lain dari pada yang umumnya muncul.

  1. Aktivitas

Belajar merupakan aktivitas yaitu aktivitas mental dan emosional. Oleh karena itu guru jangan sampai menjadikan siswa tidak ikut aktif belajar. Lebih jauh dari  sekedar mengaktifkan siswa, guru harus berusaha meningkatkan kadar aktifitas belajar tersebut.

c.Umpan balik

Guru perlu memberikan umpan balik kepada siswa dengan segera, supaya tidak terlanjur berbuat kesalahan ynag dapat menimbulkan kegagalan belajar.

  1. Perbedaan individual

Belajar tidak dapat diwakilkan orang lain. Tidak belajar berarti tidak memperoleh kemampuan. Belajar dalam arti proses emosional terjadi secara individual. Jika kita mengajar dikelas, sudah barang tentu kadar aktivitas belajar para siswa beragam.

Upaya untuk menggairahkan kegiatan belajar mengajar, dalam filsafat konstruktifisme dikenal dengan istilah PAIKEM. PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif,  Iovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif . Jika siswa sudah menanamkan hal ini dalam pikirannya, tidak akan lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan , kemungkinan kegagalan, keterbatasan pihlihan, dan tentu saja akan terhindar dari bosan.

Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara mengakomodasi setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya, sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dan menggunkan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, kinestetik. Hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa.

Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan maksudnya suasana belajar mengajar yang menggairahkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar.

Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan, tetapi tidak efektif , pembeljaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.

Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut ; 1) Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dalam penekanan pada belajar melalui berbuat. 2) Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk dalam menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa. 3) Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok, 4) Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya .

C. Teori-Teori dalam Pembelajran Matematika

Terkait dengan pembelajaran matematika, banyak kecenderungan baru yang tumbuh dan berkembang di banyak negara, sebagai inovasi dan reformasi model pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tantangan sekarang dan mendatang. Beberapa diantaranya adalah model – model (1) Contextual lirning, (2) Cooperative learning, (3) Realistic matematics, (4) Problem solving (5) Mathematical investigation ,(6) Guided discovery, (7) Open – Ended (Multiple solution , Mutiple method of solution), (8) Manipulative material , (9) Concep map,  (10) Quantum teaching / learning , (11) Writing in mathematics.

Sebagai  pengetahuan, matematika  mempunyai  ciri-ciri  khusus  antara  lain  abtrak, deduktif, konsisten, hierarkis, dan logis. Soedjadi (1999) menyatakan  bahwa keabstrakan  matematika  karena  objek  dasarnya  abstrak, yaitu  fakta, konsep, operasi  dan  prinsip. Ciri keabstrakan  matematika  beserta  ciri  lainnya  yang  tidak  sederhana, menyebabkan  matematika  tidak  mudah  untuk  dipelajari, dan  pada akhirnya  banyak  siswa  yang  kurang  tertarik  terhadap  matematika  (masih  lebih  untuk  dari pada  membenci  atau   ‘’alergi’’   terhadap  matematika). Ini  berarti  ada  ‘’jembatan’’  yang  dapat  menghubungkan  keilmuan  matematika  tetap  terjaga  dan  matematika  dapat  lebih  mudah  dipahami.

Persoalan  mencari  jembatan  merupakan  tantangan,  yaitu  tantangan pendidikan matematika untuk mencari dan memilih model matematika yang menarik, mudah dipahami siswa, menggugah semangat, menantang terlibat, dan pada akhirnya menjadikan siswa cerdas matematika. Pencarian dan pemilihan model pembelajaran matematika perlu berorientasi pada perkembangan mutakhir di dunia, dengan terus berusaha memperpendek kesenjangan antara kemajuan di dunia dan keadaan nyata di indonesia. Perkembangan dan kemajuan pembelajaran matematika di dunia tidak bisa diabaikan karena dapat menyebabkan kita semakin sulit mengejar kemajuan negara lain .

Model pembelajaran matematika yang berkembang didasarkan pada teori – teori belajar. Hakikat dari teori–teori belajar yang sesuai dengan pembelajaran matematika perlu dipahami sungguh–sungguh sehingga tidak keliru dalam penerapannya. Teori–teori belajar itu menjadi berguna jika makna dari konsep–konsep yang dikembangakan tidak dipahami dengan baik . Jika suatu teori belajar efektif untuk membantu menolong guru menjadi lebih profesional, yaitu meningkatkan kesadaran guru bahwa mereka wajib menolong siswa mengintegrasikan konsep baru dengan konsep yang sudah ada maka teori itu berharga dan patut dikembangkan .

Guru matematika yang profesional dan kompeten mempunyai wawasan landasan yang dapat dipakai dalam perencanaan dan pelaksanaan matematika. Wawasan itu berupa dasar–dasar teori belajar yang dapat diterapkan untuk pengembangan dan/atau perbaikan pembelajaran matematika .

  1. Teori Thorndike

Sebelum tahun lima-puluhan, kurikulum matematika dasar dipengaruhi oleh teori Thorndike, ditandai terutama dengan pengembangan ketrampilan komputasional bilangan cacah, pecahan dan desimal. Teori Thorndike disebut teori penyerapan, yaitu teori yang memandang peserta didik sebagai selembar kertas putih, penerima pengetahuan yang siap menerima pengetahuan secara pasif. Menurut Thorndike (1924), Belajar dikatakan sebagai berikut:“ Learning in esentially the formation of connections or bonds between situations and responses … and that habit rules in the realem of thougt as fully in the relm of action “ .

Pandangan belajar seperti ini mempunyai dampak terhadap pandangan mengajar. Mengajar dianggap sebagai perencanaan dari urutan bahan pelajaran yang disusun dengan cermat , mengkomunikasikan bahan kepada peserta didik, dan membawa mereka pada praktik menggunakan konsep atau prosedur baru. konsep dan prosedur baru itu akan semakin mantap jika makin banyak praktek (latihan) dilakukan . Ketrampilan dan konsep baru sekedar dirtambahkan terus menerus, tidak dikait–kaitkan atau diintegrasikan satu sama lain. Kekuatan hubungan stimulus dan respon mewarnai matematika di sekolah dasar, misal stimulus 7+8 = yang mempunyai respon 15, yang banyak digunakan untuk membawa peserta didik trampil komputasi. Pada dasarnya Teori Thorndike menekankan banyak memberi praktik dan latihan (drill dan practice) kepada peserta didik agar konsep dan prosedur dapat mereka kuasai dengan baik.

  1. Teori Ausubel

Teori makna (meaning theory) dari Ausubel (Brownell dan Chazal) menggunakan pentingnya pembelajaran bermakna dalam mengajar matematika. Kebermaknaan dalam pembelajaran akan membuat kegiatan belajar lebih menarik, lebih bermanfaat dan lebih menantang, sehingga konsep dan prosedur matematika akan lebih mudah dipahami dan lebih tahan lama diingat oleh peserta didik. Kebermaknaan yang dimaksud dapat berupa struktur matematika yang lebih ditonjolkan untuk memudahkan pemahaman (understanding). Wujud lain kebermaknaan adalah pernyataan konsep–konsep dalam bentuk bagan, diagran atau peta, yang mana tampak keterkaitan diantara konsep–konsep yang diberikan. Teori ini juga disebut teori holistik karena mempunyai pandangan pentingnya keseluruhan dalam mempelajari bagian – bagian. Bagan atau peta keterkaitan dapat bersifat hierarkis atau bersifat menyebar (distributif), sebagai bentuk lain dari rangkuman , ringkaran atau ikhtisar .

  1. Teori Jean Piaget

Teori perkembangan intelektual dari Jean Piaget menyatakan bahwa kemampuan intelektual anak berkembang secara bertingkat atau bertahap, yaitu 1) Sensori motor (0-2tahun), 2) Pra-operasional (2-7 tahun), 3) Operasional konkret (7-11 tahun), dan 4) Operasional (> 11 tahun). Teori ini merekomendasikan perlunya mengamati tingkatan perkembangan interlektual anak sebelum suatu bahan pelajaran matematika diberikan, terutama untuk menyesuaikan “keabstrakan“  bahan matematika dengan kemampuan berfikir abstrak anak pada saat itu. Teori peaget juga menyatakan bahwa setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi sekitar atau lingkungan. Keadaan ini memberi petunjuk bahwa orang selalu belajar untuk mencari tahu dan memperoleh pengetahuan, dan setiap orang berusaha untuk membangun sendiri pengetahuan yang diperolehnya. Pendapat peaget ini mendasari penerapan aliran konstruktivisme dalam pelaksanaan pembelajaran matematika, dan memposisikan peran guru sebagai fasilitator dan motivator agar peserta didik mempunyai kesempatan untuk membangun sendiri pengetahuan mereka.

  1. Teori Vygotsky

Teori Vygotsky berusaha mengembangkan model konstruktivisme belajar mandiri dari peaget menjadi belajar kelompok. dalam membangaun sendiri pengetahuan , peserta didik dapat memperoleh pengetahuan melalui kegiatan yang beraneka ragam dengan guru sebagai fasilitator. Kegiatan ini dapat berupa diskusi kelompok kecil, diskusi kelas, mengerjakan tugas kelompok, tugas mengerjakan ke depan kelas 2-3 orang dalam waktu yang sama dan untuk soal yang sama (sebagai bahan pembicaraan/diskusi kelas), tugas menulis (karya tulis, karangan), tugas bersama membuat laporan kegiatan pengamatan atau kajian matematika dan tugas menyampaikan penjelasan atau mengkomunikasikan pendapat atau presentasi tentang suatu yang terkait dengan matematika. Dengan kegiatan yang beragam, peserta didik akan membangun pengetahuan sendiri melalui membaca, diskusi, tanya jawab, kerja kelompok, pengamatan, pencatatan, pengerjaan dan presentasi .

  1. Teori Jarome Bruner ( Struktur / pola )

Teori Bruner berkaitan dengan perkembangan mental, yaitu kemampuan mental anak berkembang secara bertahap mulai dari sederhana ke yang rumit, mulai dari yang mudah ke yang sulit, dan mulai yang nyata atau konkret ke yang abstrak. Urutan tersebut dapat membantu peserta didik untuk mengikuti pelajaran dengan lebih mudah. Urutan bahan yang dirancang biasanya juga terkait usia atau umur anak .

Secara lebih jelas bruner menyebut tiga tingkatan yang perlu diperhatikan dalam mengakomodasikan keadaan peserta didik, yaitu a) Enaktive (manipulasi obyek langsung), b) Iconic ( manipulasi obyek tidak langsung ) dan c) Simbolic (manipulasi simbol)

  1. Pemecahan masalah ( George Polya )

George Polya (dalam posamentier) menyebutkan tehnik heuristik (bantuan untuk menemuakan), meliputi (a) understand the problem, (b) devise a plan, (c) carry out the plan, dan (d) look bock. Suatu masalah merupakan pertanyaan untuk melatih pikiran melalui kegiatan inkuiri, diskusi dan penalaran. Bentuk pertanyaan yang memerlukan pemecahan masalah antara lain: a) Soal cerita (verbal/word problem), b) Soal tidak rutin (non-routine mathematics problem ), dan c) Soal nyata ( real/aplication problems)

  1. Teori Van Hiele ( Hierarkis Belajar Geometri )

Teori Van Hiele menyatakan bahwa eksistensi dari lima tingkatan yang berbeda tentang pemikiran geometrik, yaitu a) level 0 (visualisasi/memanipulasi model fisik), b) level 1 (analisis/mengkaji sifat– sifat bangun), c) level 2 (dedukasi informal / menggunakan model untuk mencari sifat), d) level 3 (dedukasi/menggunakan sistem aksiomatik deduktif dan menyusun pembuktian), e) level 4 (rigor/membedakan dan mengaitkan sistem–sistem aksiomatik yang berbeda).

  1. RME (Realistic Mathematics Education)

Merupakan pembelajaran matematika secara kontekstual, yaitu mengaitkannya dengan situasi dunia nyata disekitar siswa atau keadaan kehidupan sehari–hari .

  1. Peta konsep

Peta konsep merupakan implementasi pembelajaran bermakna dari ausubel, yaitu kebermaknaan yang ditunjukkan dengan bagan atau dengan peta, sehingga hubungan antar konsep menjadi jelas, dan keseluruhan konsep teridentifikasi . Jenis peta konsep dapat menyebar atau tegak dengan susunan dari konsep umum ke konsep khusus, dan setiap perincian dihubungkan dengan kata kerja .

Dari beberapa teori di atas maka penelitian ini akan menggunakan teori pemecahan masalah ( george polya ) dengan strategi numbered heads together pada pokok bahasan tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan.

D. Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan

Pecahan adalah suatu lambang yang memuat pasangan berurutan bilangan-bilangan bulat. Banyak orang menganggap mengajarkan pecahan itu sulit. Beberapa kesulitan mempelajari pecahan diantaranya adalah :

  1. Siswa kurang tahu makna pecahan
  2. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami pecahan – pecahan senilai.
  3. Siswa mengalami kesulitan dalam membandingkan dan mengurutkan pecahan .
  4. Siswa kurang memahami perkalian bilangan asli dengan pecahan .
  5. Siswa mengalami kesulitan dalam untuk mencari hasil pembagian .
  6. Siswa mengalami kesulitan untuk mencari hasil pembagian sembarang .
  7. Siswa mengalami kesulitan untuk mencari penjumlahan dan pengurangan dan lain–lain .

Dengan kesulitan-kesulian itu maka mengajarkan pecahan sebaiknya tidak mekanistik dan empirik dalam bentuk hafalan, ingatan, dan statis,tetapi dalam bentuk konseptual, bermakna, manipulatif benda konkrit, dan relistik. Seperti memakai potongan kertas yang dilipat-lipat dan digunting dengan cara tertentu dapat digunakan sebagai salah satu cara agar siswa lebih aktif, lebih partisipatif dan lebih terlibat secara mental.

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

  1. A. Subjek Penelitian
    1. 1. Tempat  penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas $$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

  1. 2. Waktu penelitian

Tabel 3.1

Jadwal Pelaksanaan

No. Hari, Tanggal Kelas Kompetensi Dasar Siklus Pukul
1.
2.
3.

  1. B. Deskripsi Pelaksanaan

1. Pra siklus

a. Perencanaan

Pada tanggal penulis mulai membuat perencanaan. Penulis mencari bahan-bahan yang akan diajarkan seperti buku materi matematika tentang penjumlahan dan penguranagn pecahan, silabus, media pembelajaran. Kemudian penulis membuat rencana pembelajaran lembar observasi dan tes formatifnya.

b. Pelaksanaan

Dalam proses pembelajaran diawali dengan menyiapkan alat/ bahan dan mengatur kondisi kelas. Kemudian mengucapkan salam, mengabsen siswa, membantu dan membimbing siswa menyiapkan bahan belajar. Melakukan apersepsi sekaligus memberi motivasi  dan perhatian siswa. Pada kegiatan awal siswa mengikuti pelajaran dengan baik.

Pada kegiatan inti guru mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang pecahan. Tetapi banyak siswa yang kurang mengerti tentang pecahan.  Kemudian guru membimbing siswa mengerjakan soal di depan papan tulis. Dengan bimbingan guru siswa membentuk kelompok dan  membagikan tugas kelompok pada siswa. Pada saat itu suasana kelas menjadi ramai. Siswa melakukan diskusi kelompok, setelah itu siswa melaporkan hasil kerja kelompok dan guru menyimpulkan hasil kerja kelompok siswa.

c. Observasi

Dalam pelaksanaan pembelajaran, hasil pengamatan diperoleh dari lembar observasi dan tes formatif. Dari lembar observasi ada 20 kriteria penilaian, jumlah total poinnya adalah 80, dan penulis mendapat 54 poin atau nilainya 58,1. Dari hasil tes formatif siswa yang tuntas pembelajaran ada 9 anak atau sekitar 45% dan yang belum tuntas pembelajaran 11 anak atau 55 %.

d. Refleksi

Dari pembelajaran tersebut akhirnya penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada penulis diantaranya adalah mengajarnya yang kurang memanfaatkan benda-benda yang realistik, kurang menggunakan media, kurang memberi motivasi dan perhatian pada siswa, kurang memberi kesempatan siswa bertanya. Dan ini akan menjadi dasar untuk memperbaiki pembelajaran selanjutnya. Berikut adalah catatan dari teman sejawat yang diberikan penulis :

-          Gunakan media yang baik supaya pembelajaran menyenangkan.

-          Berilah motivasi dan perhatian supaya siswa antusias belajar.

-          Berilah kesempatan siswa bertanya.

  1. 2. Siklus I

a.Perencanaan

Berdasarkan kesalahan pada pembelajaran yang penulis lakukan pada prasiklus maka penulis melakukan perbaikan. Pada tanggal $$$$$$$penulis mulai membuat perencanaan. Penulis mencari bahan-bahan yang yang sama dengan sebelumnya yaitu materi matematika tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan tetapi menggunakan media yang berbeda. Kemudian penulis membuat rencana pembelajaran lembar observasi dan tes formatifnya.

b.Pelaksanaan

Dalam proses pembelajaran diawali dengan menyiapkan alat/bahan dan mengatur kondisi kelas. Kemudian mengucapkan salam, mengabsen siswa, membantu dan membimbing siswa menyiapkan bahan belajar. Melaksanakan apersepsi sekaligus memberi motivasi  dan perhatian siswa. Pada kegiatan awal siswa mengikuti pelajaran dengan baik.

Pada kegiatan inti guru menyampaikan tujuan perbaikan pada siswa. Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan siswa. Dan siswa sangat antusias terhadap pembelajaran itu. Kemudian guru membagi kelompok dan setiap kelompok mendapatkan nomor kepala. Guru membagi tugas setiap kelompok yang berbeda, dan masing – masing kelompok mengerjakannya. Suasana cukup tenang , semua siswa pada bekerja menyelesailkan soal. Setelah selesai kelompok mendiskusikan jawaban yang benar, tiap kelompok mencatat hasil diskusi. Guru memanggil salah satu nomor siswa dalam kelompok tertentu untuk melaporkan hasil diskusi dengan alat peraga yang sudah tersedia dan siswa lain memberi tanggapan pada teman yang menjawab. Siswa sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Guru menunjuk nomor yang lain di kelompok lain dengan tugas yang berbeda. Setelah semua sudah maju guru menyimpulkan dan mengklasifikasi .

c. Observasi

Dalam pelaksanaan pembelajaran, hasil pengamatan diperoleh dari lembar observasi dan tes formatif. Dari lembar observasi ada 20 kriteria penilaian, jumlah total poinnya adalah 80, dan penulis mendapat 68 poin atau nilainya 85,5. Dari hasil tes formatif siswa yang tuntas pembelajaran ada 13 anak atau sekitar 65% dan yang belum tuntas pembelajaran 7 anak atau 35 %.

d.Refleksi

Dari pembelajaran tersebut akhirnya penulis senang karena pembelajaran yang sudah dilakukan lebih baik dari sebelumnya. Siswa sudah antusias dalam pembelajaran. Namun hal ini belum selesai karena masih ada kekurangan yang perlu perbaiki sehingga akan menjadi hasil yang lebih baik lagi.

Berikut adalah catatan teman sejawat kepada penulis :

-          Pembelajaran sudah lebih baik.

-          Media pembelajaran sudah bagus.

-          Perhatian dan motivasi ke siswa sudah baik

-          Siswa sudah antusias belajar.

-          Siswa sudah diberi kesempatan bertanya

  1. 3. Siklus II

a.  Perencanaan

Sebelum pembelajaran peulis mencari kekurangan pembelajaran pada siklus  I. Kemudian pada tanggal $$$$$$$$$$ penulis membuat rencana perbaikan pembelajaran sekaligus lembar observasi dan tes formatifnya.

b. Pelaksanaan

Dalam proses pembelajaran diawali dengan menyiapkan alat/ bahan dan mengatur kondisi kelas. Kemudian mengucapkan salam, mengabsen siswa, membantu dan membimbing siswa menyiapkan bahan belajar. Melaksanakan apersepsi sekaligus memberi motivasi  dan perhatian siswa. Pada kegiatan awal siswa mengikuti pelajaran dengan baik.

Pada kegiatan inti guru menyampaikan tujuan perbaikan pada siswa. Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan siswa.Dan siswa sangat antusias terhadap pembelajaran itu. Kemudian guru membagi kelompok dan setiap kelompok mendapatkan nomor kepala. Guru membagi tugas setiap kelompok yang berbeda,dan masing – masing kelompok mengerjakannya. Suasana cukup tenang , semua siswa pada bekerja menyelesailkan soal. Setelah selesai kelompok mendiskusikan jawaban yang benar, tiap kelompok mencatat hasil diskusi. Guru memanggil salah satu nomor siswa dalam kelompok tertentu untuk melaporkan hasil diskusi dengan alat peraga yang sudah tersedia dan siswa lain memberi tanggapan pada teman yang menjawab. Siswa sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Guru menunjuk nomor yang lain di kelompok lain dengan tugas yang berbeda. Setelah semua sudah maju guru menyimpulkan dan mengklasifikasi .

c. Observasi

Dalam pelaksanaan pembelajaran, hasil pengamatan diperoleh dari lembar observasi dan tes formatif. Dari lembar observasi ada 20 kriteria penilaian, jumlah total poinnya adalah 80, dan penulis mendapat 71 poin atau nilainya 88,75. Dari hasil tes formatif siswa yang tuntas pembelajaran ada 15 anak atau sekitar 75% dan yang belum tuntas pembelajaran 5 anak atau 25 %.

  1. d. Refleksi

Dari pembelajaran tersebut akhirnya penulis sangat senang karena pembelajaran yang sudah dilakukan tambah lebih baik dari sebelumnya. Siswa sudah antusias dalam pembelajaran. Dan hasil siswa dalam pembelajaran sebagian besar sudah tuntas. Berikut adalah catatan teman sejawat kepada penulis :

-          Pembelajaran sudah tambah lebih baik.

-          Media pembelajaran sudah bagus.

-          Perhatian dan motivasi ke siswa sudah lebih baik

-          Siswa sudah antusias belajar.

-          Siswa sudah diberi kesempatan bertanya

DAFTAR PUSTAKA

TIDAK LULUS SENSOR………….

NB : LAPORAN INI KHUSUS UNTUK TEMEN” MAHASISWA UT YG LAIN JGN COBA”

JIKA ANDA BINGUNG SETELAH MEMBACA LAPORAN INI SEGERALAH MINUM OBAT…

About these ads

7 responses to “proposal PKP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s