Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dunia pendidikan sekarang ini terus menerus mengglobal. Kita tidak bisa mengabaikan organisasi pendidikan di dunia karena negara kita merupakan negara  anggota dari pergaulan masyarakat pendidikan dunia. Pendidikan matematika di berbagai negara , terutama negara negara maju, telah berkembang dengan cepat, disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan yang bernuansa kemajuan sains dan teknologi. (Gatot Muhsetyo, 2008 : 1.1 – 1.2)

Seiring dengan perkembangan strategi pembelajaran dari berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada pasa peserta didik (student centered)maka berkembang pula cara pandang terhadap bagaimana peserta didik belajar dan mempelajari pengetahuan, Kenyataan bahwa peserta didik adalah makhluk hidup yang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar dan lingkungan hidup. (Gatot Muhsetyo, 2008 : 1.7).

Suatu proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam satu satuan pendidikan di sekolah akan dapat diketahui hasilnya  setelah guru melakukan pengukuran hasil belajar. Dengan pengukuran hasil belajar, guru akan dapat mengetahui keberhasilan siswanya yang biasanya dinyatakan dengan nilai. Nilai yang dicapai siswa akan menunjukkan tingkat penguasaan materi pelajaran oleh siswa secara optimal. Kepiawaian guru dalam mengelola pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan. Contohnya kepandaian dalam memilih teknik atau metode pembelajaran akan sangat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran yang akan disampaikan sehingga siswa dapat mencapai tingkat penguasaan yang diharapkan. Sebab suatu pembelajaran  akan dikatakan berhasil apabila sesuatu yang disampaikan guru dapat diterima dengan baik oleh sebagian besar siswa.

Dalam pembelajaran matematika penulis menemukan kesulitan siswa dalam menerima pembelajaran yaitu, “Menjumlahkan dan mengurangi berbagai bentuk pecahan”. Hal ini diketahui setelah penulis melakukan evaluasi terhadap siswa. Penulis menemukan banyak siswa yang belum memahami operasi bilangan pecahan tersebut.

Hal ini penulis ketahui setelah memberikan evaluasi kepada siswa. Terlihat dari hasil tes formatif siswa yang dicapai masih  di bawah KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ) yaitu 70. Dari seluruh siswa kelas V yang berjumlah 37 siswa, yang telah mencapai KKM berjumlah 20 siswa sedangkan yang masih di bawah KKM berjumlah 17 siswa. Artinya ketuntasan yang dicapai  hanya 54% sedangkan yang masih di bawah tingkat keberhasilan masih 46%.

Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis ingin memperbaiki pembelajaran memali PTK (Penelitian Tindakan Kelas) siswa kelas V SD Muhammadiyah Bangsri sebagai upaya peningkatan keberhasilan siswa dan guru dalam pembelajaran.

  1. Identifikasi Masalah

Jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain, menurut siswa merupakan pelajaran yang dianggap paling mengerikan dan paling banyak menemui kesulitan. Terbukti dengan hasil yang diharapkan masih kurang optimal dan kurang memuaskan untuk dapat dikatakan berhasil, karena masih banyak siswa yang belum bisa menyelsaikan soal soal dengan benar.. Hal ini menunjukkan masih rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap mata pelajaran matematika.

Menyikapi hal tersebut di atas, penulis melakukan refleksi dan berdiskusi dengan teman sejawat untuk menemukan penyebab ketidakberhasilan pembelajaran yang penulis lakukan. Terungkap penyebab dari ketidakberhasilan tersebut diantaranya :

  1. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami cara penyelesaian operasi penjumlahan dan pengurangan bilang pecahan berpenyebut sama dan tidak sama.
  2. Siswa kurang teliti dalam penyelesaian operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan berpenyebut sama dan tidak sama.
  3. Siswa kurang memperhatikan pelajaran dan sering melihat ke luar jendela.
  1. Analisis Masalah

Melalui diskusi dengan teman sejawat, diketahui bahwa penyebab rendahnya penguasaan materi oleh siswa terhadap mata pelajaran matematika yang diajarkan guru antara lain :

  1. Kurangnya minat siswa dalam pembelajaran matematika
  2. Penjelasan guru terlalu cepat
  3. Penggunaan alat peraga kurang maksimal sehingga membuat anak cepat bosan
  4. Guru kurang tepat dalam memilih metode
  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan analisis di atas, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut :

“ Apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan?”

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, adalah :

  1. Meningkatkan motivasi belajar siswa
  2. Meningkatkan kemampuan siswa dlam operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan berpenyebut sama dan tidak sama
  3. Meningkatkan ketelitian siswa dalam operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan berpenyebut sama dan tidak sama
  4. Meningkatkan keberanian siswa untuk bertanya
  1. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru murid dan sekolah yang diteliti.

  1. Bagi Guru
    1. Membantu guru memperbaiki pembelajaran
    2. Meningkatkan kualitas pembelajaran
    3. Meningkatkan rasa percaya diri
    4. Membantu guru berkembang secara profesional
  2. Bagi Siswa
    1. Meningkatkan motivasi belajar
    2. Meningkatkan peran aktif siswa dalam pembelajaran
    3. Meningkatkan prestasi belajar
  3. Bagi Sekolah
    1. Meningkatkan eksistensi sekolah sebagai pusat pendidikan
    2. Membantu sekolah untuk berkembang lebih baik

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Dalam sajian BAB II akan diuraikan kajian pustaka dan landasan teori secara rinci meliputi :

  1. Pembelajaran Matematika

1.   Pengertian Matematika

Belajar matematika pada hakikatnya adalah melakukan kegiatan mental (Hudoyo, 1990). Dalam pembelajaran matematika seseorang dituntut memperdiapkan mental dalam proses penerimaan pengetahuan baru. Oleh karena itu dalam mengajar matematika guru hendaknya dapat menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga dapat mencapai hasil yang diinginkan.

Menurut Soedjadi (1995:1) matematika sekolah adalah bagian atau unsur dari matematika yang dipilih antara lain dengan pertimbangan atau berorentasi pada pendidikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa matematika sekolah adalah matematika yang telah dipilah-pilah dan disesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa, serta digunakan sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi para siswa.

Pelaksanaan pembelajaran matematika juga dimulai dari yang sederhana ke kompleks. Menurut Karso (1993:124) matematika mempelajari tentang pola keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan. Konsep-konsep matematika tersusun secara hirarkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks.

2.   Karakteristik Matematika

Telah disepakati bahwa karakteristik matematika diantaranya adalah

  1. memiliki objek abstrak
  2. bertumpu pada kesepakatan
  3. berpola pikir deduktif
  4. memiliki simbol yang kosong dari arti
  5. memperhatikan semesta pembicaraan
  6. konsisten dalam sistemnya. (Departemen Pendidikan Nasional, 2004)

Keabstrakan matematika karena objek dasarnya abstrak, yaitu fakta konsep, operasi dan prinsip. Ciri keabstrakan matematika beserta ciri lainnya yang tidak sederhana, menyebabkan matematika tidak mudah untuk di pelajari dan pada akhirnya banyak siswa kurang tertarik terhadap matematika(masih lebih untuk dari pada membenci atau alergi terhadap matematika. Ini berarti perlu “jembatan yang menghubungkan keilmuan matematika tetap terjaga dan matematika dapat lebih mudah dipahami (Soedjadi, 1999 : 1.2)

Matematika berdasarkan etimologi, berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan bernalar. Bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio, sedangkan ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen disamping penalaran. Disisi lain matematika dianggap sebagai ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan lainnya dan terbagi dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri. Namun ada kelompok lain yang menganggap ilmu komputer dan statistika bukan bagian dari matematika (Materi PTBK Modul MTK-22).

3.   Ruang Lingkup Matematika

Berdasarkan hal tersebut dalam matematika terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya. Dengan demikian dalam mempelajari matematika, konsep sebelumnya harus benar-benar dikuasai agar dapat memahami konsep-konsep selanjutnya. Hal ini tentu saja membawa akibat kepada bagaimana terjadinya proses belajar mengajar atau pembelajaran matematika. Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika tidak dapat dilakukan secara melompat-lompat tetapi harus tahap demi tahap, dimulai dengan pemahaman ide dan konsep yang sederhana sampai kejenjang yang lebih kompleks. Seseorang tidak mungkin mempelajari konsep lebih tinggi sebelum ia menguasai atau memahami konsep yang lebih rendah. Berdasarkan hal tersebut mengakibatkan pembelajaran berkembang dari yang mudah ke yang sukar, sehingga dalam memberikan contoh guru juga harus memperhatikan tentang tingkat kesukaran dari materi yang disampaikan, dengan demikian dalam pembelajaran matematika contoh-contoh yang diberikan harus bervariasi dan tidak cukup hanya satu contoh.

  1. Bilangan Pecahan
  2. Pengertian pecahan

Pecahan atau bilangan pecah mempunyai dua pengertian yaitu :

  1. Bilangan untuk menyatakan banyaknya bagian dari suatu benda utuh  yang dibagi menjadi dua bagian-bagian yang sama besar.
  2. Bilangan untuk menyatakan suatu bilangan.

Pecahan adalah suatu lambang yang memuat pasangan berurutan bilangan-bilangan bulat p dan q, p/q (p ≠ q) (Gatot Muhsetyo, 2008)

Dari keterangan di atas yang disebut bilangan pecahan adalah bilangan yang dilambangakan p/q, p disebut pembilang dan q disebut penyebut dimana p dan q bilangan bulat.

  1. Langkah-langkah Operasi Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan.
    1. Langkah-langkah Operasi Penjumlahan Pecahan.

(1)      Operasi penjumlahan berpenyebut sama.

Menjumlah bilangan pecahan yang berpenyebut sama dapat dilakukan dengan cara menjumlahklan pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap.

(2)      Operasi penjumlahan berpenyebut tidak sama.

(a)        Mencari KPK penyebut pecahan-pecahan yang akan dijumlah.

(b)       Mengubah pecahan dengan penyebut baru.

(c)        Menjumlahkan kedua pembilang dari pecahan itu, sedangkan penyebut kedua pecahan adalah penyebut baru.

(Buchori, 2004 : 48 – 49)

  1. Langkah-langkah Operasi Pengurangan Pecahan

(1)      Operasi pengurangan berpenyebut sama.

Hasil pengurangan dua pecahan sejenis adalah pecahan yang pembilanganya selisih dari kedua pembilang dan penyebut tetap.

(2)      Operasi pengurangan berpenyebut tidak sama.

(a)                               Mencari KPK penyebut pecahan-pecahan yang akan dikurangkan.

(b)                               Mengubah pecahan dengan penyebut baru.

(c)        Mengurangkan kedua pembilang dari pecahan itu, sedangkan   penyebut kedua pecahan adalah penyebut baru.

(Buchori, 4002 : 56 – 59)

  1. Metode Pembelajaran

Istilah metode pembelajaran terdiri atas dua kata, yaitu metode dan pembelajaran. “Methode” atau “metode” berasal dari kata Yunani (Greeka), yaitu : “metha” + “hadhos”. “Metha” berarti melalui atau melewati dan “hados” berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu.

Sedangkan istilah “pembelajaran” berasal dari kata “belajar” ditambah awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi pembelajaran yang berarti menyajikan atau menyampaikan. Jadi dengan demikian “metode pembelajaran” berarti suatu cara yang harus dilalui untuk mencapai bahan pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran.(Zuhairini, 1993 : 66)

Menurut Wina Senjaya (2008) metode adalah “ a way in achieving something” yang artinya metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan

  1. Metode Diskusi

Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion)

dan resitasi bersama (socialized recitation).
Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk:

  1. Mendorong siswa berpikir kritis.
  2. Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas.
  3. Mendorong siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama.
  4. Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama.

Kelebihan metode diskusi sebagai berikut :

  1. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan       berbagai jalan
  2. Menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik.
  3. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

Kelemahan metode diskusi sebagai berikut :

  1. Tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar.
  2. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
  3. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
  4. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
  5. Metode penugasan atau resitasi

Metode penugasan atau resitasi adalah suatu metode mengajar dimana siswa diharuskan membuat resume dengan kalimat sendiri.

Kelebihan metode resitasi sebagai berikut :

  1. Pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
  2. Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.

Kelemahan metode resitasi sebagai berikut :

  1. Terkadang anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya meniru hasil pekerjaan temennya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
  2. Terkadang tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
  3. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual (Syaiful Bahri Djamarah, 2000 : 199).

Penulis  memilih  metode  diskusi  dalam   penelitian ini dengan harapan   siswa  akan    lebih  bersemangat,   aktif,  kreatif, menyenangkan   dan   mudah   menerima  pelajaran khususnya  matematika  sehingga prestasi belajar akan tercapai.

About these ads

11 responses to “Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s