KEEFEKTIFAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC (COOPERATIFE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah suatu proses terus menerus manusia untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi sepanjang hayat karena itu siswa harus benar-benar dilatih dan dibiasakan berpikir secara mandiri. Matematika merupakan pengetahuan yang mempunyai peran sangat besar baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lain. Dengan adanya pendidikan matematika disekolah dapat mempersiapkan anak didik agar menggunakan matematika secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam menghadapi ilmu pengetahuan lain.

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan secara nasional, perlu dilaksanakan sistem penilaian hasil belajar yang baik dan terencana. Sistem penilaian tersebut tidak saja dilaksanakan di tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten, namun juga di tingkat sekolah perlu diperhatikan dan dilaksanakan dengan baik. Adapun untuk mata pelajaran matematika, penilaian diarahkan untuk mengukur kemampuan, diantaranya: (1). Pemahaman konsep. Siswa mampu mendefinisikan konsep, mengidentifikasi dan memberi contoh atau bukan contoh dari konsep; (2). Prosedur. Siswa mampu mengenali prosedur atau proses menghitung yang benar dan tidak benar; (3). Komunikasi. Siswa mampu menyatakan dan menafsirkan gagasan matematika secara lisan, tertulis atau mendemonstrasikan; (4). Penalaran. Siswa mampu memberikan alasan induktif dan deduktif sederhana; (5). Pemecahan masalah. Siswa mampu memahami masalah, memilih strategi penyelesaian dan menyelesaikan masalah. Pada penelitian ini penilaian lebih ditekankan hanya untuk mengukur kemampuan pemcahan masalah. Indikasi pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika adalah agar siswa mampu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Dengan mempelajari matematika siswa selalu dihadapkan kepada masalah matematika yang terstruktur, sistematis dan logis yang dapat membiasakan siswa untuk mengatasi masalah yang timbul secara mandiri dalam kehidupannya tanpa harus selalu meminta bantuan kepada orang lain.

Kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa dapat diketahui melalui soal-soal yang berbentuk uraian, karena pada soal yang berbentuk uraian kita dapat melihat langkah-langkah yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan, sehingga pemahaman siswa dalam pemecahan masalah dapat terukur. Bentuk lain soal pemecahan masalah yang difokuskan pada penelitian ini adalah soal cerita. Berdasarkan buku-buku penunjang pelajaran matematika yang mengacu pada kurikulum, banyak dijumpai soal-soal yang berbentuk soal cerita hampir pada setiap materi pokok. Menurut Suyitno (2005:1) soal cerita merupakan soal yang dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari (Contextual Problem). Soal cerita dalam kehidupan sehari-hari lebih ditekankan kepada penajaman intelektual anak sesuai dengan kenyataan yang mereka hadapi. Namun kenyataannya banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami arti kalimat-kalimat dalam soal cerita, kurang mampu memisalkan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan, kurang bisa menghubungkan secara fungsional unsur-unsur yang diketahui untuk menyelesaikan masalahnya, dan unsur mana yang harus dimisalkan dengan suatu variabel.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah pada pokok bahasan segiempat bagi siswa kelas ***************?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keefektifan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) terhadap kemampuan pemecahan masalah pada pokok bahasan segiempat bagi siswa kelas ****************.

Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi siswa, yaitu:

a. Dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat mengasah dan mengembangkan kemampuan berfikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah.

b. Pelaksanaan pembelajaran kooperatif diharapkan dapat mengembangkan rasa kebersamaan dan kerjasama siswa dengan siswa lain.

c. Siswa lebih tertantang pada persoalan-persoalan matematika.

2. Manfaat bagi peneliti, yaitu:

a. Sebagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi pembelajaran bervariasi yang dapat memperbaiki sistem pembelajaran sehingga memberikan layanan terbaik bagi siswa.

b. Guru semakin mantap dalam mempersiapkan diri dalam proses pembelajaran.

3. Manfaat bagi peneliti, yaitu:

Menambah pengalaman bagi peneliti mengenai pengembangan pembelajaran tersebut.

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Matematika dan matematika sekolah

Pengertian/definisi/batasan tentang matematika amat banyak dan beragam. Walaupun amat banyak batasan tentang matematika, tetapi terdapat 4 ciri khas matematika, yaitu:

a. Matematika memiliki objek kajian yang abstrak

b. Matematika mendasarkan diri pada kesepakatan-kesepakatan

c. Sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif

d. Struktur kajian dijiwai oleh kebenaran konsistensi (kebenaran yang didahului oleh kebenaran-kebenaran sebelumnya)

Menurut Ebbut dan Strakker dalam Suyitno (2007:24), yaitu matematika yang diajarkan di sekolah-sekolah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Matematika sebagai kegiatan penelusuran pola dan hubungan.

Implikasinya, siswa perlu dilatih melakukan kegiatan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan, percobaan, membandingkan, juga siswa perlu dibantu dalam menemukan hubungan antara pengertian yang satu dengan yang lainnya.

  1. Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan. Implikasinya, siswa perlu didorong inisiatifnya dan diberi kesempatan untuk berpikir beda.
  2. Matematika sebagai kegiatan pemecahan masalah.

Implikasinya, guru perlu menyediakan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika, membantu siswa memecahkan persoalan matematika dengan caranya sendiri, dan membantu siswa mengembangkan kompetensi dan keterampilannya untuk memecahkan masalah.

  1. Matematika sebagai alat komunikasi.

Implikasinya, guru perlu mendorong siswanya agar mengenal sifat matematika, membaca dan menulis matematika, dan mendorong siswa pula agar menghargai bahasa ibu siswa dalam membicarakan matematika.

Keempat ciri pelajaran matematika tersebut di atas, akan dipakai sebagai dasar untuk mengevaluasi hasil belajar siswa pada pelajaran matematika, khususnya di tingkat SMP.

2. Ranah penilaian matematika di SMP

Aspek yang dinilai dalam matematika dibagi menjadi tiga yaitu pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, serta pemecahan masalah. Adapun kriteria dari ketiga aspek tersebut menurut Zulaihah (2006:19), adalah:

a. Pemahaman konsep

Menilai ranah pemahaman konsep, berarti menilai kompetensi dalam memahami konsep, melakukan algoritma rutin yang tepat dan efisien. Indikatornya: menyatakan ulang sebuah konsep; mengklarifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu; memberi contoh dan non contoh dari konsep; menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis; mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep; menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu; mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.

b. Penalaran dan Komunikasi Menilai ranah penalaran dan komunikasi, berarti menilai kompetensi dalam melakukan penalaran dan mengkomunikasikan gagasan matematika (sifatnya rutin maupun non rutin). Indikatornya: menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar dan diagram; mengajukan dugaan; melakukan manipulasi matematika; menari kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap kebenaran solusi; menarik kesimpulan dari pernyataan; memeriksa kesahihan suatu argumen; menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.

c. Pemecahan Masalah

Menilai ranah pemecahan masalah, berarti menilai kompetensi dalam memahami, memilih pendekatan dan strategi pemecahan, serta menyelesaikan masalah. Indikatornya: menunjukkan pemahaman masalah; mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan masalah; menyajikan masalah secara matematik dalam berbagai bentuk; memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara tepat; mengembangkan strategi pemecahan masalah; membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah; menyelesaikan masalah yang tidak rutin.

3. Model-model Pembelajaran Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa, secara implisit terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan (Uno, 2006:2).

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menuliskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagipara perancang pembelajaran dan bagi para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar (Sugandi, 2004:85).

Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. Pada prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar kepada para siswanya. Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. Model-model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar tersebut menurut Amin Suyitno (2004:31) antara lain:

a. Model pembelajaran pengajuan soal (Problem Possing)

b.Model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and  Learning- CTL)

c. Model pembelajaran PAKEM

d. Model pembelajaran Quantum (Quantum Teaching)

e. Model pembelajaran berbalik (Resiprocal Teaching)

f. Model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil

g. Model pembelajaran Problem Solving

h. Model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) Ragam model pembelajaran cooperative learning cukup banyak seperti STAD (Student Team Achievement Division), TGT (Team Games Tournament), TAI (Team Assisted Individualization), Jigsaw, Jigsaw II, CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition), dan sebagainya.

i. Model pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education)

4. Pembelajaran kooperatif

a. Pengertian

Pembelajaran kooperatif mencakup kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan bersama lainnya (Suherman, 2003:260).

b. Tujuan

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran yang penting (Ibrahim, 200:7), yaitu:

1). Hasil belajar akademik

Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit.

2). Penerimaan terhadap perbedaan individu

Efek penting yang kedua ialah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan maupun ketidakmampuan.

3). Pengembangan keterampilan sosial

Model pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.

c. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Terdapat enam fase atau langkah utama dalam pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim (2000:10). Keenam fase pembelajaran kooperatif dirangkum pada tabel.1 berikut ini.

Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa juga dapat mempelajari keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan membagi tugas anggota kelompok selama kegiatan. Keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut menurut Lundgren dalam Perdy Karuru antara lain:

1). Keterampilan Tingkat Awal

(a). Menggunakan kesepakatan yaitu menyamakan pendapat yang berguna untuk  meningkatkan kerja dalam kelompok.

(b). Menghargai kontribusi berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan oarang lain.

(c). Mengambil giliran dan berbagi tugas berarti bahwa setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas/tanggung jawab tertentu dalam kelompok.

(d). Berada dalam kelompok artinya setiap anggota tetap dalam kelompok kerja selama kegiatan berlangsung.

(e). Berada dalam tugas artinya meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya agar selesai tepat waktu.

(f). Mendorong partisipasi artinya mendorong semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.

(g). Menyelesaikan tugas pada waktunya.

(h). Menghormati perbedaan individu.

2). Keterampilan Tingkat Menengah

Keterampilan tingkat menengah meliputi mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat rangkuman, menafsirkan, mengatur dan mengorganisir serta mengurangi ketegangan.

3). Keterampilan Tingkat Mahir

Keterampilan tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan dan berkompromi. Dari penjelasan mengenai pembelajaran kooperatif di atas dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran kooperatif dapat melatih siswa untuk saling bekerjasama dan saling bertukar pengetahuan yang dimiliki dalam menyelesaikan masalah. Jadi, dengan adanya pembelajaran kooperatif pada siswa dapat memunculkan rasa percaya diri, berfikir kritis dan berani mengungkapkan pendapat.

e. Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif

Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

1). Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama.”

2). Siswa harus bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.

3). Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.

4). Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.

5). Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.

6). Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.

7). Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

5. Pemecahan Masalah Salah satu indikasi adanya transfer belajar adalah kemampuan menggunakan informasi dan keterampilan untuk memecahkan masalah-masalah. Memecahkan suatu masalah merupakan aktivitas dasar bagi manusia karena sebagian besar kehidupan kita adalah berhadapan dengan masalah-masalah. Suatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Jika suatu soal diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut langsung mengetahui cara menyelesaikannya yang benar, maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai masalah.

Suatu soal dipandang sebagai masalah merupakan hal yang sangat relatif. Suatu soal yang dianggap sebagai masalah bagi seseorang, bagi orang lain mungkin hanya merupakan hal yang rutin. Dengan demikian guru perlu teliti dalam menentukan soal yang akan disajikan sebagai pemecahan masalah. Suatu soal/pertanyaan akan merupakan suatu masalah hanya jika seseorang tidak mempunyai aturan/hukum tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Menurut Suyitno (2004:35) suatu soal dapat dikatakan sebagai problem bagi siswa jika dipenuhi syarat-syarat berikut: (1). Siswa memiliki pengetahuan prasyarat untuk mengerjakan soal tersebut, (2). Diperkirakan, siswa mampu mengerjakan soal tersebut, (3). Siswa belum tahu algoritma/cara

menyelesaikan soal tersebut, (5). Siswa mau dan berkehendak untuk menyelesaikan soal tersebut.

Penyelesaian masalah diartikan sebagai penggunaan matematika baik untuk matematika itu sendiri maupun aplikasi matematika dalam kehidupan sehari-hari dan ilmu pengetahuan yang lain secara kreatif untuk menyelesaikan masalah-masalah yang belum diketahui penyelesaiannya ataupun masalah-masalah yang belum kita kenal (Hudojo, 1997:195). Menurut Polya, dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat langkah yang harus dilakukan yaitu: (1). Memahami masalah, (2). Merencanakan pemecahannya, (3). Menyelesaikan masalah sesuai rencana langkah kedua, dan (4). Memeriksa kembali hasil yang diperoleh (Suherman, 2003: 99).

Didalam merencanakan penyelesaian masalah seringkali diperlukan kreativitas. Sejumlah strategi dapat membantu kita untuk merumuskan suatu rencana penyelesaian suatu masalah. Wheeler dalam Hudojo (1997:196) mengemukakan strategi penyelesaian masalah antara lain:

a. Membuat suatu tabel

b. Membuat suatu gambar

c. Menduga, mengetes dan memperbaiki

d. Mencari pola

e. Mengatakan kembali permasalahan

f. Menggunkan penalaran

g. Menggunakan variabel

h. Menggunakan persamaan

i. Mencoba menyederhanakan permasalahan

j. Menghilangkan situasi yang tidak mungkin

k. Bekerja mundur

l. Menyusun model

6. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Compotition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (Steven dan Slavin dalam Nur, 2000:8) yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Namun, CIRC telah berkembang bukan hanya dipakai pada pelajaran bahasa tetapi juga pelajaran eksak seperti pelajaran matematika.

Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok satu sama lain. Dengan pembelajaran kooperatif, diharapkan para siswa dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.

a. Komponen-komponen dalam pembelajaran CIRC

Model pembelajaran CIRC menurut Slavin dalam Suyitno (2005: 3-4) memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut antara lain: (1). Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa; (2). Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu; (3). Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya; (4). Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberika bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya; (5). Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas; (6). Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok; (7). Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa; (8). Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

b. Kegiatan pokok pembelajaran CIRC

Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu: (1). Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal, (2). Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu variabel, (3). Saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah, (4). Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut, dan (5). Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (Suyitno, 2005:4).

c. Penerapan model pembelajaran CIRC

Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh dengan:

1). Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa, pada penelitian ini digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan

2). Guru memberikan latihan soal

3). Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC

4). Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen

5). Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya kepada setiap kelompok

6). Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama yang spesifik

7). Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC. Guru mengawasi kerja kelompok

8). Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya

9). Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah yang diberikan

10). Guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan temuannya

11). Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator

12). Guru memberikan tugas/PR secara individual

13). Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya

14). Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal pemecahan masalah

15). Guru memberikan kuis

d. Kekuatan model pembelajaran CIRC

Secara khusus, Slavin dalam Suyitno (2005:6) menyebutkan kelebihan model pembelajaran CIRC sebagai berikut:

1). CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah

2). Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang

3). Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok

4). Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya

5). Membantu siswa yang lemah

6). Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk pemecahan masalah

7. Metode Ekspositori

Metode ekspositori adalah cara penyampaian pelajaran dari seorang guru kepada siswa di dalam kelas dengan berbicara diawal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal serta disertai tanya jawab. Siswa tidak hanya mendengar dan membuat catatan. Guru bersama siswa berlatih menyelesaikan soal latihan dan siswa bertanya kalau belum mengerti. Guru dapat memeriksa pekerjaan siswa sacara individual atau klasikal. Siswa mengerjakan latihan sendiri atau dapat bertanya temannya, atau disuruh guru mengerjakan di papan tulis (Suyitno, 2004:4).

8. Soal Cerita

Soal cerita dalam pengajaran matematika sangatlah penting, sebab diperlukan dalam perkembangan proses berpikir siswa. Kemampuan siswa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal cerita tidak hanya kemampuan

skill, mungkin algoritma tertentu, tetapi dibutuhkan juga kemampuan yang lain. Soal cerita adalah soal yang disajikan dalam bentuk cerita pendek terdiri dari beberapa kalimat. Cerita yang disajikan dapat berupa masalah dalam kehidupan sehari-hari atau yang lainnya. Panjang pendeknya kalimat yang digunakan untuk membuat soal cerita biasanya berpengaruh terhadap tingkat soal tertentu.

Menurut Suyitno (2005:1) soal cerita merupakan soal yang dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari (contextual problem). Menurut Hudojo (2003: 198), langkah-langkah yang harus dilakukan agar siswa terampil menyelesaikan soal cerita yaitu:

a. Sedapat mungkin siswa membaca soal cerita itu sendiri.

b. Tanyakan kepada siswa beberapa pertanyaan untuk mengetahui apakah soal cerita itu sudah benar-benar dimengerti. Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya:

1) “Apa yang kau ketahui dari soal itu?”

2) “Apa saja dari soal itu yang kau peroleh?”

3) “Apa yang hendak kau cari?”

4) “Bagaimana kamu akan menyelesaikan soal itu?”

c. Meminta kepada siswa untuk memilih operasi dan jelaskan operasi atau metode penyelesaian itu dapat dipergunakan untuk menyelesaikan soal yang dimaksud.

d. Menyelesaikan soal cerita.

e. Diskusikan jawaban yang diperoleh dan interpretasikan hasil tersebut.

Kebaikan-kebaikan soal berbentuk uraian menurut Arikunto (2002B: 163) antara lain:

a. Mudah disiapkan dan disusun

b. Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan

c. Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus

d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri

About these ads

5 responses to “KEEFEKTIFAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC (COOPERATIFE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s