POLA BELAJAR SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR KELAS IV

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan dibidang pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional diperlukan peran serta aktif dari berbagai pihak yang terkait. Oleh karena itu bidang pendidikan perlu mendapatkan perhatian, penanganan dan prioritas baik dari pemerintah, pengelola pendidikan maupun keluarga. Kurang memadainya jumlah gedung sekolah, biaya pendidikan dan tenaga pengajar merupakan masalah pendidikan Indonesia dari segi kuantitas. Upaya pembangunan dibidang pendidikan perlu dilanjutkan untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju dan pesat sangat berpengaruh terhadap pendidikan. Kecanggihan teknologi mengakibatkan aktifitas hidup manusia dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan praktis. Manusia cenderung menyukai segala sesuatu yang serba instant. Hal ini mempengarui manusia untuk selalu berpikir cepat dan praktis dalam segala hal,termasuk dalam pendidikan. Kenyataan sekarang ini banyak siswa yang mementingkan bagaimana mendapatkan nilai bagus dan lulus ujian tanpa mempedulikan apa yang mereka peroleh dari ilmu yang mereka pelajari.Siswa-siswa tersebut lebih percaya kepada lembaga-lembaga bimbingan belajar yang mengajarkan cara-cara cepat dan praktis dalam menyelesaikan soal-soal. Padahal ada kemungkinan konsep dan proses yang diajarkan lembaga bimbingan belajar tersebut tidak benar. Sebagai salah satu lembaga pendidikan,sekolah memegang peranan penting dalam menyiapkan generasi penerus. Peran guru sangat besar dalam keseluruhan kegiatan pembelajaran. Tugas guru bukan hanya untuk menyampaikan materi pembelajaran, tetapi hendaknya guru dapat menanamkan konsep-konsep yang benar dari materi pembelajaran tersebut sehingga ilmu yang dipelajari siswa dapat bermanfaat dalam kehidupan siswa, sekarang dan diwaktu yang akan datang. Untuk meningkatkan mutu pendidikan pada umumnya dan pendidikan matematika pada khususnya, perlu adanya pengembangan dan pengembangan dan pemahaman di bidang pendidikan antara lain terkait dengan model pembelajaran yang diterapkan dalam proses belajar mengajar. Hal ini terkait dengan pendidikan matematika selama ini tidak berhasil meningkatkan kualitas pemahaman siswa tentang konsep-konsep dan aturanaturan matematika, karena kita salah atau tidak memilih model pembelajaran. Pada dasarnya pengajaran matematika di Sekolah Dasar (SD) sampai yang sesuai dengan karakteristik siswa. Untuk menciptakan SD yang berkualitas sedikitnya ada lima factor yang menentukan yakni : kegiatan belajar mengajar, manajemen sekolah, buku dan sarana pendidikan, fisik dan penampilan sekolah, serta partisipasi masyarakat. Dari kelima faktor tersebut komponen proses belajar mengajar adalah faktor yang menentukan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Banyak usaha perbaikan pembelajaran matematika sekolah di Indonesia telah dilaksanakan namun, belum menampakkan hasil yang mengembirakan hal ini suatu isyarat bahwa ada kesulitan di banyak siswa, bahkan cukup mengkhawatirkan menakutkan bagi beberapa siswa. Hal ini mungkin karena matematika memiliki sifat abstrak. Penyebab kesulitan tersebut bisa bersumber dari dalam diri siswa juga dari luar diri siswa, misalnya cara penyajian materi pelajaran atau pembelajaran yang dilaksanakan. Proses pembelajarannya, kebanyakan guru masih melaksanakan metode konvensional yaitu terkait kebiasaan dengan urutan dengan sajian pembelajaran sebagai berikut: (1) Diajarkan teori atau definisi atau teorema, (2) Diberikan contoh-contoh, (3) Diberikan latihan soal (Soedjadi,2001:1) dalam latihan soal itu umumnya barulah dihadapi bentuk soal cerita yang terkait dengan terapan matematika atau kehidupan sehari-hari atau dunia nyata anak. Justru soal bentuk cerita itulah yang selalu tidak mudah dipahami atau diselesaikan siswa. Bahkan kesulitan soal cerita sebenarnya bukanlah monopoli murid dan guru di Indonesia, tetapi memang gejala umum dalam pelajaran matematika yang kurang menekankan analisis (Soedjadi,2001: 65). Penyebab siswa sulit menerima matematika adalah kurang memahami apa itu arti matematika dan apa gunanya. Matematika itu untuk memecahkan masalah ataupun membantu kitalebih bisa memahami tata kerja alam yang selalu dihubungkan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika juga melatih manusia untuk berpikir tersruktur dan tak perlu takut persoalan rumit tak dapat terpecahkan. Dalam proses belajar mengajar di perlukan suatu keahlian atau keterampilan pengelolaan kelas yang harus di miliki seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran, karena setiap siswa memiliki kemampuan dan taraf berpikir yang berbeda-beda sehingga dengan keterampilan dan keahliannya itu seorang dapat memilih pendekatan dan metode yang tepat agar siswa mampu memahami materi pelajaran yang disampaikan guru. Kemampuan guru yang diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran matematika adalah kemampuan dalam mengelola materi ajar dan kemampuan dalam memilih pendekatan atau metode, media dan sumber belajar (Depdikbud,1994a:73). Pengelolaan materi ajar yang disajikan dengan mempertimbangkan: 1) Materi prasarat dari pokok bahasan itu, 2) Tertib urutan (urutan logis) dari pkoko bahasan setiap semester, 3) Materi yang berupa fakta, konsep, prinsip, pengerjaan, 4)Materi yang sifatnya utama dan materi pengayaan, 5) Kedalaman dan keluasan materi ajar, 6) Tingkat kesukaran materi ajar, 7) Penerapan materi ajar pada pokok bahasan lain, mata pelajaran lain, atau dalam kehidupan sehari-hari. Pemilihan pendekatan atau metode, media dan sumber belajar dalam pembelajaran matematika hendaknya sesuai dengan karakteristik, materi ajar, fakta, konsep, prinsip, atau pengerjaan, dan tingkat kemampuan siswa. Banyak Sekolah Dasar megatakan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit, bahkan ada yang menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang menakutkan. Padahal matematika merupakan pelajaran yang penting bagi siswa, karena mata pelajaran berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol- simbol serta ketajaman penalaran yang dapat memperjelas dan membantu menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena sekarang ini, banyak siswa yang mendapatkan nilai matematika yang relatif tinggi,tetapi kurang mampu menerapkan hasil yang diperolehnya baik berupa ketrampilan, sikap serta pengetahuan dalam situasi tertentu terutama dalam kehidupan sehari-hari.pada umumnya apabila siswa menghadapi permasalahan yang penyelesainnya menggunakan materi pelajaran matematika yang diperolehnya, siswa masih banyak mengalami kesulitan bahkan belum dapat menyelesaikannya.Demikian pula dalam menyelesaikan soal matematika bentuk cerita, masih banyak kesulitan yang dialami siswa. Secara umum, langkah-langkah yang ditempuh siswa dalam menyelesaikan soal cerita antara lain membaca dan memahami soal. Dengan membaca dan memahami soal diharapkan siswa dapat menceritakan kembali soal tersebut dengan kata-kata sendiri. Kemungkinan siswa menetukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dari soal yang diberikan. Pada langkah ini siswa menggunakan bilangan-bilangan yang beserta dengan hubungannya kemudian membuat model matematikanya. Apabila model matematika yang dimaksud telah ditentukan, siswa menyelesaikan model matematika tersebut dengan melakukan operasi-operasi aritmatika dan aljabar beserta algoritmanya. Dan langkah terakhir siswa menggunakan penyelesaian itu untuk menjawab pertanyaan yang diberikan dalam soal dengan menggunakan kalimat jawab. Kebanyakan siswa menganggap langkah-langkah tersebut terlalu rumit Terlebih lagi bila mereka mengandalkan lembaga bimbingan belajar yang hanya mengajarkan cara-cara tepat dan praktis dalam menyelesaikan soal.Biasanya siswa-siswa berpikir praktis hanya mempelajari jawaban dari contoh-contoh soal, lalu menghafalkannya,tanpa memahami konsep-konsep yang seharusnya dipelajari dan dipahami. Bila hal tersebut dibiarkan berlarut-larut dapat menyebabkan siswa malas belajar dalam menyelesaikan soal matematika bentuk cerita. Padahal soal cerita dapat membantu melatih siswa untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari dengan menggunakan materi pelajaran matematika yang telah diperolehnya. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah suatu metode mengajar yang sesuai dengan perkembangan pola belajar siswa. Pola belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita dapat dilihat dari tahapan pemecahan masalah yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal cerita. Untuk dapat memilih suatu metode yang tepat dalam menyampaikan materi soal cerita pada siswa Sekolah Dasar, haruslah ada informasi tentang perkembangan pola belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana pola belajar siswa Sekolah Dasar dalam menyelesaikan soal matematika bentukm cerita dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pola belajar siswa Sekolah Dasar dalam menyelesaikan soal cerita.

B. Fokus dan Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat difokuskan masalah yang akan diteliti adalah:

1. Bagaimana pola belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika di Sekolah Dasar ?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pola belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika di Sekolah Dasar ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mendiskripsikan pola belajar siswa Sekolah Dasar dalam menyelesaikan soal matematika bentuk cerita.

2. Mendiskripsikan faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi pola belajar siswa Sekolah Dasar dalam menyelesaikan soal matematika bentuk cerita.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Kenyakinan untuk menerapkannya pada pembelajaran matematika. Secara umum, hasil penelitian ini diharapkan secara teoritis mampu memberikan sumbangan kepada pembelajaran matematika. Utamanya pada peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita khususnya pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan matematika dengan menggunakan langkah Polya. Mengingat pentingnya langkah Polya dalam menyelesaikan soal cerita yang mempunyai peranan yang cukup besar bagi siswa dalam hal menyelesaikan soal cerita, oleh karenanya wajar jika guru mempunyai. Secara khusus penelitian ini diharapkan memberi kontribusi kepada strategi pembelajaran matematika berupa pergeseran dari pembelajaran yang hannya mementingkan hasil pembelajaran yang juga mementingkan prosesnya karena dalam pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disarankan untuk menggunakan paradigma belajar yang menunjuk pada proses untuk mencapai hasil.

2. Manfaat Praktis

Pada manfaat praktis penelitian ini memberikan sumbangan bagi guru dan siswa. Bagi guru matematika langkah Polya dapat digunakan sebagai solusi dalam menyelesaikan soal cerita. Bagi siswa proses pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan soal cerita.

About these ads

12 responses to “POLA BELAJAR SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR KELAS IV

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s