karya ilmiah

Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Heads Together untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Abstrak
Deddy Krishannanto, 2009. Penerapan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam.
Ada banyak cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA. Salah satunya yaitu pemilihan metode. Guru sebagai salah satu sumber belajar selalu berusaha memberikan cara terbaik dalam menyampaikan materi pelajaran. Agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik maka guru memerlukan strategi belajar mengajar yang tepat. Guru sebagai ujung tombak dalam pencapaian tujuan pendidikan perlu memilih strategi pembelajaran yang efektif dan efisien. Pengelolaan proses pembelajaran yang efektif merupakan langkah awal keberhasilan pembelajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa.
Apa yang telah dikemukakan di atas setidaknya cukup berdasar mengingat fakta di lapangan menyebutkan demikian. Pemilihan strategi yang kurang tepat berimplikasi pada prestasi belajar yang rendah, siswa bersikap pasif, dan guru cenderung mendominasi sehingga siswa kurang mandiri. Oleh sebab itu diperlukan studi khusus yang nantinya diharapkan dapat menemukan solusi tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satunya dengan melaksanaan penelitian tindakan kelas.
Karya tulis ini berusaha mendeskripsikan hasil penerapan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (kepala bernomor). Model pembelajaran ini lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya untuk dipresentasikan di depan kelas. Model pembelajaran ini selalu diawali dengan membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok sengaja diberi nomor untuk memudahkan kinerja kelompok, mengubah posisi kelompok, menyusun materi, mempresentasikan, dan mendapat tanggapan dari kelompok lain.
Model Numbered Heads Together dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan masing-masing siswa dalam setiap kelompoknya mendapatkan nomor urut, (2) guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakan permasalahan, (3) kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini, (4) guru menyebutkan salah satu nomor dan siswa yang bernomor tersebut melaporkan hasil kerja kelompok.
Kesimpulan yang didapat adalah penerapan metode pembelajaran model Numbered Heads Together dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Saran bagi guru IPA diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan dengan mengoptimalkan kerja sama dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satunya yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together.
Kata kunci : Pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together, aktifitas dan hasil belajar.
Latar Belakang Masalah

IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, IPA memiliki peran yang sangat penting. Kemajuan IPTEK yang begitu pesat sangat mempengaruhi perkembangan dalam dunia pendidikan terutama pendidikan IPA di Indonesia dan negara-negara maju. Pendidikan IPA telah berkembang di negara-negara maju dan telah terbukti dengan adanya penemuan-penemuan baru yang terkait dengan teknologi. Akan tetapi di Indonesia sendiri belum mampu mengembangkannya. Pendidikn IPA di Indonesia belum mencapai standar yang diinginkan, padahal untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknolog (IPTEK) sains penting dan menjadi tolak ukur kemajuan bangsa. Kenyataan yang terjadi di Indonesia, mata plajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi melihat kurangnya pendidik yang menerapkan konsep IPA. Permasalahan ini terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum yang diberlakukan sesuai atau malah mempersulit pihak sekolah dan siswa didik, masalah yang dihadapi oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi atau kurikulum, guru, fasilitas, peralatan siswa dan komunikasi antara siswa dan guru.
Kecenderungan pembelajaran IPA/sains di Indonesia: (1) Pembelajaran hanya berorientasi pada tes/ujian; (2) pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak utuh dan tidak berorientasi pada tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar; (3) pembelajaran lebih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan IPA sebagai produk dan peserta didik menghafal informasi factual; (4) peserta didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya; (5) cara berpikir yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh aspek afektif dan psikomotor; (6) alasan yang sering dikemukakan oleh para guru adalah keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jumlah peserta didik per kelas yang terlalu banyak; (7) evaluasi yang dilakukan hanya berorientasi pada produk belajar yang berkaitan dengan aspek kognitif dan tidak menilai proses.
Permasalahan yang sering ditemui di SD adalah ketidak aktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran IPA. Siswa hanya sekedar mengikuti pelajaran IPA yang diajarkan guru di dalam kelas, yaitu hanya mendengarkan guru ceramah dan mengerjakan soal yang diberikan oleh guru tanpa adanya respon, kritik dan pertanyaan dari siswa kepada guru sebagai umpan balik dalam kegiatan belajar mengajar. Demikian juga dengan guru, yang hanya mengajar dengan cara ceramah dan pemberian soal. Jika permasalahan tersebut berlangsung terus menerus maka akan mengakibatkan aktivitas siswa dan kreatifitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar terhambat. Hal ini juga akan berdampak pada hasil belajar siswa yang menurun, dan tidak sesuai dengan nilai kriteria ketuntasan minimal.
Maka dari itu, dibutuhkan salah satu cara untuk mengatasi masalah diatas, yaitu memantau dan memperhatikan aktifitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar sehingga permasalahan yang dihadapi siswa bisa terdeteksi oleh guru, karena hal ini akan berpengaruh pada hasil belajar IPA yang diperoleh siswa. Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar yang menuntut keaktifan siswa dalam kelompok dan memungkinkan siswa saling membantu dalam memahami konsep, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman sebagai masukan yang bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang lebih optimal.
Dalam kegiatan belajar mengajar IPA, dalam karya tulis ini menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk dapat mendiskusikan tugas yang diberikan oleh guru. Siswa dituntut aktif , bekerja sama, bertukar pendapat, berbagi ide dengan anggota yang lain dalam kelompoknya dan merespon apa yang diajarkan guru. Sehingga aktifitas belajar siswa dapat diamati oleh guru. Belajar kooperatif sangat menguntungkan antara siswa yang memiliki kemampuan rendah, sedang, maupun tinggi.

Tujuan Penulisan
Dari permasalahan-permasalahan diatas, maka tujuan penulisan karya tulis ini adalah
1. Untuk menjelaskan pentingnya kooperatif model Numbered Heads Together dalam mata pelajaran IPA.
2. Untuk menjelaskan mengenai pelaksanaan kooperatif model Numbered Heads Together dalam mata pelajaran IPA.

Kajian Pustaka

A. Pengertian Pendidikan IPA
Pendidikan IPA merupakan disiplin ilmu yang didalamnya terkait dengan ilmu pendidikan dan IPA itu sendiri. Sebelum mengetahui lebih jelas mengenai pendidikan IPA serta ruang lingkupnya, IPA memiliki dua pengertian yaitu dari segi pendidikan dan IPA itu sendiri.

1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan menurut Siswoyo (2007: 21) merupakan “proses sepanjang hayat dan perwujudan pembentukan diri secara utuh dalam arti pengembangan segenap potensi dalam rangka pemenuhan dan cara komitmen manusia sebagai makhluk individu dan makhluk social, serta sebagai makhluk Tuhan”. Sugiharto (2007: 3) menyatakan bahwa “pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk mengubah tingkah laku manusia baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan”.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses sadar dan terencana dari setiap individu maupun kelompok untuk membentuk pribadi yang baik dan mengembangkan potensi yang ada dalam upaya mewujudkan cita-cita dan tujuan yang diharapkan.
Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa pendidikan tidak hanya menitik beratkan pada pengembangan pola pikir saja, namun juga untuk mengembangkan semua potensi yang ada pada diri seseorang. Jadi pendidikan menyangkut semua aspek pada kepribadian seseorang untuk membuat seseorang tersebu tmenjadi lebih baik.

2. Pengertian IPA
IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains menurut Suyoso (1998:23) merupakan “pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode danberlakusecarauniversal”.

Menurut Abdullah (1998:18), IPA merupakan “pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain”.
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan dididapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus disempurnakan.
Dalam pembelajaran IPA mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam serta persoalannya. Ruang lingkup IPA yaitu makhluk hidup, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya. IPA terdiri dari tiga aspek yaitu Fisika, Biologi dan Kimia. Pada apek Fisika IPA lebih memfokuskan pada benda-benda tak hidup. Pada sapek Biologi IPA mengkaji pada persoalan yang terkait dengan makhluk hidup serta lingfkungannya. Sedangkan pada aspek Kimia IPA mempelajari gejala-gejala kimia baik yang ada pada makhluk hidup maupun benda takhidup yang ada dialam.
Dari uraian di atas mengenai pengertian pendidikan dan IPA maka pendidikan IPA merupakan penerapan dalam pendidikan dan IPA untuk tujuan pembelajaran termasuk pembelajaran di SD .
Pendidikan IPA menurut Tohari (1978:3) merupakan “usaha untuk menggunakan tingkah laku siswa hingga siswa memahami proses-proses IPA, memiliki nilai-nilai dan sikap yang baik terhadap IPA serta menguasi materi IPA berupa fakta, konsep, prinsip, hokum dan teori IPA”.
Pendidikan IPA menurut Sumaji (1998:46) merupakan “suatu ilmu pegetahuan social yang merupakan disiplin ilmu bukan bersifat teoritis melainkan gabungan (kombinasi) antara disiplin ilmu yang bersifat produktif”.
Dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan IPA merupakan suatu usha yang dilakukan secara sadar untuk mengungkap gejala-gejala alam dengan menerapkan langkah-langkah ilmiah serta untuk membentuk kepribadian atau tingkah laku siswa sehingga siswa dapat memahami proses IPA dan dapat dikembangkan di masyarakat.
Pendidika IPA menjadi suatu bidang ilmu yang memiliki tujuan agar setiap siswa terutama yang ada di SMP memiliki kepribadian yang baik dan dapat menerapkan sikap ilmiah serta dapat mengembangkan potensi yang ada di alam untuk dijadikan sebagai sumber ilmu dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian pendidikan IPA bukan hanya sekedar teori akan tetapi dalam setiap bentuk pengajarannya lebih ditekankan pada bukti dan kegunaan ilmu tersebut. Bukan berarti teori-teori terdahulu tidak digunakan, ilmu tersebut akan terus digunakan sampai menemukan ilmu dan teori baru. Teori lama digunakan sebagai pembuktian dan penyempurnaan ilmu-ilmu alam yang baru. Hanya saja teori tersebut bukan untuk dihapal namun di terapkan sebagai tujuan proses pembelajaran. Melihat hal tersebut di atas nampaknya pendidikan IPA saat ini belum dapat menerapkannya.
Perlu adanya usaha yang dilakukan agar pendidikan IPA yang ada sekarang ini dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan awal yang akan dicapai, karena kita tahu bahwa pendidikan IPA tidak hanya pada teori-teori yang ada namun juga menyangkut pada kepribadian dan sikap ilmiah dari peserta didik. Untuk itu maka kepribadian dan sikap ilmiah perlu ditumbuhkan agar menjadi manusia yang sesuai dari tujuan pendidikan.

Hakekat Ilmu Pengetahuan Alam adalah sebagai produk, proses dan sikap.
1. IPA Sebagai Produk
IPA sebagai produk merupakan akumulasi hasil upaya para perintis IPA terdahulu dan umumnya telah tersusun secara lengkap dan sistematis dalam bentuk buku teks. Dalam pengajaran IPA seorang guru dituntut untuk dapat mengajak anak didiknya memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber belajar. Alam sekitar merupakan sumber belajar yang paling otentik dan tidak akan habis digunakan.

2. IPA Sebagai Proses
Yang dimaksud dengan “proses” di sini adalah proses mendapatkan IPA. IPA disusun dan diperoleh melalui metode ilmiah. Jadi yang dimaksud proses IPA adalah metode ilmiah. Sepuluh keterampilan proses meliputi : (1) observasi; (2) klasifikasi; (3) interpretasi; (4) prediksi; (5) hipotesis; (6) mengendalikan variable; (7) merencanakan dan melaksanakan penelitian; (8) inferensi; (9) aplikasi; (10) komunikasi.

3. IPA Sebagai Pemupukan Sikap
Makna “sikap” pada pengajaran IPA dibatasi pengertiannya pada “sikap ilmiah terhadap alam sekitar”. Ada Sembilan aspek sikap dari ilmiah yang dapat dikembangkan pada anak usia SD/MI, yaitu : (1) sikap ingin tahu; (2) sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru; (3) sikap kerja sama; (4) sikap tidak putus asa; (5) sikap tidak berprasangka; (6) sikap mawas diri; (7) siakap bertanggung jawab; (8) sikap berfikir bebas; (9) sikap kedisiplinan diri. Sikap ilmiah ini dapat dikembangkan ketika siswa melakukan diskusi, percobaan, simulasi, atau kegiatan di lapangan, (Sri Sulistyorini, 2007:9-10)

B. Perkembangan Pendidikan IPA
Pemberian pendidikan IPA di sekolah menengah bertujuan agar siswa paham dan menguasai konsep alam. pembelajaran ini juga bertujuan agar siswa dapat menggunakan metode ilmiah untuk menyelesaikan persoalan alam tersebut. Pendidikan IPA atau IPA itu sendiri memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan terutama dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas yang mepunyai pemikiran kritis dan ilmiah dalam menanggapi isu di masyarakat.
Perkembangan IPA ini dapat menyesuaikan dengan era teknologi informasi yang saat ini tengah hangat dibicarakan dalam dunia pendidikan.Menyadari hal ini maka pendidikan IPA perlu mendapat perhatian, sehingga dapat dilakukan suatu usaha yang di sebut modernisasi. Modernisasi sendiri merupakan proses pergeseran sikap, cara berpikir dan bertindak sesuai dengan tuntunan zaman. Dengan demikian modernisasi pendidikan IPA memiliki upaya untuk mengubah sistem menjadi lebih modern dan akan terus berjalan dinamis.
Modernisasi dalam pendidikan IPA meliputi dua hal yaitu materi IPA dan matematika, serta sistem penyampaian. Modernisasi pendidikan IPA telah berkembang di Negara-negara maju seperti Amerika, namun untuk Indonesia sendiri belum nampak perkembangannya Modernisasi yang dilakukan di Indonesia terkait dengan adanya perubahan kurikulum yang dominant terlihat pada kurikulum 1975, kurikulum ini berpengaruh pada kurikulum 1984 dan 1994. Selanjutnya berubah menjadi Kurikulum 2004 yang biasa dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sampai akhirnya sekarang telah disempurnakan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

C. Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning)
Cooperative learning merupakan strategi pembelajaran yang menitik beratkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda kedalam kelompok-kelompok kecil (Saptono, 2003:32). Kepada siswa diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, seperti menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman, berdiskusi dengan teratur, siswa yang pandai membantu yang lebih lemah, dan sebagainya.
Agar terlaksana dengan baik strategi ini dilengkapi dengan LKS yang berisi tugas atau pertanyaan yang harus dikerjakan siswa. Selama bekerja dalam kelompok, setiap anggota kelompok berkesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dan memberikan respon terhadap pendapat temannya. Setelah menyelesaikan tugas kelompok, masing-masing menyajikan hasil pekerjaannya didepan kelas untuk didiskusikan dengan seluruh siswa.

D. Unsur-unsur dan Ciri-ciri kooperatif
Menurut Lundgren (Sukarmin, 2002:2), Unsur-unsur dasar yang perlu ditanamkan pada diri siswa agar cooperative learning lebih efektif adalah sebagai berikut :
a) Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”
b) Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
d) Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara anggota kelompok.
e) Para siswa akan diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f) Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.
g) Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Sementara itu, menurut Nur (2001: 3) pembelajaran yang menggunakan model kooperatif (cooperative learning) pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif umtuk menuntaskan materi belajarnya.
b) Kelompok dibentukdari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, bangsa, suku, dan jenis kelamin yang berbeda-beda.
d) Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu.
Untuk mencapai hasil maksimal, ada lima unsur yang harus diterapkan dalam pembelajaran kooperatif yaitu :
1. Saling ketergantungan positif
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif , pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Guru menciptakan suasana yang mendorong siswa merasa saling dibutuhkan.
2. Tanggung jawab perseorangan
Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran kooperatif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanankan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
3. Tatap muka
Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing.
4. Komunikasi antar anggota
Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.

5. Evaluasi proses kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan efektif.

E. Pengertian Numbered Heads Together
a. Pengertian
Menurut Anita Lie (2004:59) pengertian Numbered Heads Together (NHT) atau kepala bernomor adalah suatu tipe dari pembelajaran kooperatif pendekatan struktural yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu Numbered Heads Together juga mendorong siswa untuk meningkatkan kerja sama mereka. Model ini dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan semua tingkatan peserta didik.
Satu aspek penting dalam pembelajaran kooperatif adalah bahwa di samping pembelajaran kooperatif membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik diantara siswa, pembelajaran kooperatif secara bersamaan membantu siswa dalam pembelajaran akademis mereka.

b. Prosedur pelaksanaan Numbered Heads Together (NHT)
Menurut Anita Lie (2004:60) prosedur pelaksanaan pembelajaran kooperatif pendekatan struktural Numbered Heads Together (NHT) adalah sebagai berikut :
a) Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
b) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
c) Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban tersebut.
d) Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.

Adapun alur dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut :

F. Pelaksanaan Numbered Heads Together pada mata pelajaran IPA.

Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam
Pokok Bahasan : Gaya
Kelas/semester : IV/II
Kompetensi Dasar : 1. Menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya dapat mengubah gerak suatu benda
2. Menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya dapat mengubah bentuk benda.
Tujuan pembelajaran :
1. Melalui tanya jawab siswa dapat menyebutkan contoh gaya dalam kehidupan sehari-hari
2. Dengan percobaan siswa dapat membuktikan bahwa gaya dapat mengubah gerak suatu benda.
3. Dengan percobaan siswa dapat membuktikan bahwa gaya dapat mengubah bentuk benda.

Hipotesis :
Pembelajaran ini menggunakan metode kooperatif model Numbered Heads Together, dengan metode ini aktivitas siswa dapat meningkat sehingga akan berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa.

Lanhkah-langkah penerapan Numbered Heads Together :
1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa tentang pentingnya manfaat mempelajari pokok bahasan gaya.
2. Guru membagi siswa dalam kelompok dengan jumlah anggota 5 sampai 6 siswa dan kepada setiap anggota dalam kelompok diberi nomor antara 1 sampai 6 atau memakai topi dari kertas yang diberi nomor.
3. Guru melakukan tanya jawab tentang gaya.
4. Guru memberikan tugas/LKS percobaan kepada semua kelompok tentang gaya dapat mempengaruhi benda diam, bergerak dan bentuk benda.
5. Setiap kelompok mengamati percobaan yang mereka lakukan.
6. Guru memberikan bimbingan kepada setiap kelompok.
7. Guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa tentang percobaan yang dilakukan.
8. Setiap kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar, siswa dalam kelompok menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan dari guru dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban tersebut.
9. Guru memanggil salah satu nomor, siswa dengan nomor yang dipanggil merjawab pertanyaan dari guru.
10. Guru memberi kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi jawaban dari kelompok yang sudah mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
11. Guru memberikan penguatan pengembangan materi terhadap pokok-pokok materi.
12. Guru memberikan penghargaan/penilaian kepada siswa/kelompok.
13. Guru bersama siswa menyimpulkan materi.
14. Pada akhir pembelajaran diadakan evaluasi/tes.

G. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN KOOPERATIF (cooperative learning)

1. Kelebihan kooperatif (cooperative learning) yaitu:
a. Meningkatkan harga diri tiap individu
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu yang lebih besar.
c. Konflik antar pribadi berkurang
d. Sikap apatis berkurang
e. Pemahaman yang lebih mendalam
f. Retensi atau penyimpanan lebih lama
g. Meningkatkan kebaikan budi,kepekaan dan toleransi.
h. Cooperative learning dapat mencegah keagresifan dalam sistem kompetisi dan keterasingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan aspek kognitif.
i. Meningkatkan kemajuan belajar(pencapaian akademik)
j. Meningkatkan kehadiran siswa dan sikap yang lebih positif
k. Menambah motivasi dan percaya diri
l. Menambah rasa senang berada di sekolah serta menyenangi teman-teman sekelasnya
m. Mudah diterapkan dan tidak mahal

2. Kelemahan kooperatif (cooperative learning) yaitu:
a. Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas. Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan guru mengkondisikan kelas atau pembelajaran dilakuakan di luar kelas seperti di laboratorium, aula atau di tempat yang terbuka.
b. Banyak siswa tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lain. Siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam grup mereka, sedangkan siswa yang kurang mampu merasa minder ditempatkan dalam satu grup dengan siswa yang lebih pandai. Siswa yang tekun merasa temannya yang kurang mampu hanya menumpang pada hasil jerih payahnya. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan sebab dalam cooperative learning bukan kognitifnya saja yang dinilai tetapi dari segi afektif dan psikomotoriknya juga dinilai seperti kerjasama diantara anggota kelompok, keaktifan dalam kelompok serta sumbangan nilai yang diberikan kepada kelompok.
c. Perasaan was-was pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik atau keunikan pribadi mereka karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok. Karakteristik pribadi tidak luntur hanya karena bekerjasama dengan orang lain, justru keunikan itu semakin kuat bila disandingkan dengan orang lain.

Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan
Kesimpulan dalam karya tulis ini adalah:
1. Motivasi merupakan faktor yang ada pada diri individu. Hal ini menjadi penting untuk mendorong siswa meningkatkan keberhasilan belajar dan kecakapan menghadapi tantangan hidup. Kadar motivasi belajar siswa tidak stabil, kadang tinggi, kadang rendah, bahkan suatu ketika motivasi tersebut hilang dari diri siswa. Oleh karena itu, perlu diterapkan kooperatif model Numbered Heads Together pada pembelajaran IPA dalam mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan.
2. Susana positif yang timbul dari penerapan metode kooperatif model Numbered Heads Together memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pelajaran dan guru. Dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan siswa merasa lebih termotivasi untuk belajar dan berpikir. Namun tidak menutup kemungkinan kericuhan didalam kelas akan terjadi.

B. Saran
Saran yang penulis ajukan dalam karya tulis ini adalah:
1. Keberhasilan penerapan metode kooperatif model Numbered Heads Together tergantung dari siswa dan guru sehingga dibutuhkan guru yang menguasai sistem pengajaran atau penilaian kooperatif model Numbered Heads Together dan siswa berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
2. Penerapan metode kooperatif model Numbered Heads Together dapat dijadikan alternatif menarik dalam peningkatan motivasi belajar siswa disekolah.
3. Bagi guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan dengan mengoptimalkan kerja sama dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satunya yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together.

Daftar Pustaka

Abdullah Aly & Eny Rahma. 1998. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara
Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.
Nur, Mohammad. 2001. Pembelajaran Kooperatif dalam Kelas IPA. Surabaya: UNESA.
Sukarmin. 2002. Pembelajaran Kooperatif. UNESA: Surabaya
Sulistyorini. Sri. 2007. Pembelajaran IPA Sekolah Dasar. Yogyakarta : Tiara Wacana.
Suyoso, Suharto dan Sujoko. 1998. Ilmu Alamiah Dasar. Yogyakart: IKIP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s