contoh proposal PKP

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekarang dan mendatang penuh perkembangan dan perubahan yang cepat dan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan. Perkembangan sains dan teknologi, perubahan sikap dan perilaku sosial budaya, perubahan pengelolaan pemerintahan/ perdagangan, serta persaingan terjadi dimana-mana.

Hal ini mendorong bertambah besarnya pertumbuhan. Disini dituntut adanya profil yang ideal dan profesional, diantaranya memiliki kebiasaan dan kemampuan ilmiah dalam merancang, melaksanakan, menemukan kekuatan dan kelemahan dalam pembelajaran, serta memanfaatkannya untuk perbaikan pembelajaran berikutnya (FKIP, 2007: 2).

Peningkatan kemampuan profesional tersebut terutama didasarkan pada keluasan dan kedalaman wawasan yang digunakan oleh guru sebagai landasan dalam menngambil keputusan, baik landasan situasional ketika merencanakan pembelajaran, maupun keputusan transaksional ketika melaksanakan pembelajaran (Wardani, 2003: 1).

Seiring dengan tuntutan peningkatan mutu pendidikan, kurikulum juga mengalami penyempurnaan. Kurikulum yang diterapkan dalam proses pendidikan di Indonesia pada semua jenjang pendidikan yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum tersebut dibutuhkan dimasa mendatang dengan harapan akan mampu membekali para siswa dalam menghadapi tantangan hidupnya di kemudian hari secara mandiri, cerdas, kritis, rasional dan kreatif.

Dunia pendidikan juga terus-menerus menggelobal. Pendidikan matematika di berbagai negara, terutama negara-negara maju telah berkembang dengan pesat sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang bernuansa kemajuan sains dan teknologi. Terkait dengan pembelajaran matematika yang konon sulit untuk dipelajari dan bahkan membenci atau alergi terhadap matematika. Hal ini berarti perlu ada jembatan yang menghubungkan agar matematika tetap terjaga dan dapat lebih dipahami.

Persoalan mencari jembatan merupakan tantangan, yaitu tantangan pendidikan matematika untuk mencari dan memilih model pembelajaran yang menarik, mudah dipahami oleh siswa, menggugah semangat, menantang terlibat, dan pada akhirnya menjadikan siswa cerdas matematika.

Namun selama penulis menjalankan tugas sebagai guru di SD Negeri SAYA SENDIRI, masih banyak kekurangan dan tantangan yang harus penulis hadapi, seperti pembelajaran matematika kelas III semester 2 dengan kompetensi dasar memahami masalah yang berkaitan dengan pecahan sederhana. Dari hasil rata-rata nilai tes formatif masih relatif rendah yaitu hanya 63,8. Dari 27 siswa hanya 8 siswa yang tuntas. Tingkat ketuntasannya hanya mencapai 29%, berarti sebagian besar siswa belum menguasai materi tersebut.

Melihat permasalahan dalam pembelajaran tersebut penulis menyadari adanya kekurangan-kekurangan yang telah penulis lakukan, sehingga pencapaian prestasi belajar siswa tidak maksimal. Kekurangan tersebut antara lain: penggunaan metode yang tidak sesuai, proses pembelajaran yang kurang menarik, sehingga siswa pasif, pembelajaran berpusat pada guru, karena harapan penulis untuk mencapai target, dan kurang memperhatikan proses. Akhirnya siswa kurang menguasai konsep. Media dan alat peraga yang jauh dari sempurna juga menjadi kendalanya.

Lingkungan keluarga juga berpengaruh. Di sekolah (SD) tempat penulis mengajar, mayoritas dari keluarga pedagang di pasar dan buruh yang wawasannya sangat sempit, dan juga kurang mempunyai waktu untuk komunikasi. Sehingga minat belajar siswa di rumah kurang karena tidak ada perhatian dari orang tua. Dengan lingkungan yang kurang mendukung, penulis mengalami kesulitan dalam pencapaian prestasi belajar siswa.

Dari permasalahan yang penulis kemukakan di atas, mendorong perlunya diadakan Perbaikan Pembelajaran melalui PTK, sehingga semua siswa diharapkan dapat belajar dengan tuntas setelah melewati beberapa siklus perbaikan pembelajaran.

Adapun refleksi yang akan dilaksanakan oleh penulis adalah penerapan strategi Make-Amatch untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang pecahan.

B. Rumusan Masalah

Untuk memantapkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan operasi penjumlahan dan pengurangan, siswa harus diberikan dasar yang kuat dalam penguasaan fakta dasar penjumlahan dan pengurangan. Penguasaan fakta dasar penjumlahan dan pengurangan tidak dapat hanya melalui hafalan, siswa sebaiknya juga diberikan konsep penjumlahan dan pengurangan yang benar. Salah satu cara untuk menanamkan konsep penjumlahan dan pengurangan melalui penerapan make-amacth. Melalui penugasan, siswa akan terlibat langsung dalam proses belajar serta tertantang untuk menemukan sendiri konsep penjumlahan dan pengurangan tersebut.

Berdasarkan permasalahan dan pertimbangan tersebut maka peneliti merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut: Apakah Dengan Menerapkan Strategi Make-Amatch Dapat Meningkatkan Keterampilan Siswa Tentang Pecahan Sederhana Di Kelas SAYA MENGAJAR?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang penulis lakukan adalah:

  1. Menerapkan strategi make-amatch untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.
  2. Meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran.
  3. Meningkatkan minat belajar siswa sehingga dapat meningkatkan pengetahuan tentang konsep pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
  4. Siswa mampu menerapkan konsep yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mempunyai manfaat yang cukup besar bagi guru, pembelajaran, maupun bagi sekolah.

  1. Manfaat PTK Bagi Guru
  2. Membantu guru memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang dikelolanya.
  3. Membuat guru lebih percaya diri.
  4. Membantu guru berkembang secara profesional.
  5. Guru mendapatkan kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan sendiri.
    1. Manfaat PTK Bagi Siswa
    2. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa dalam pembelajaran.
    3. Meningkatkan rasa ingin tahu, sehingga siswa berani bertanya.
    4. Siswa mampu memecahkan masalah, menemukan dan menerapkan konsep dalam kerja kelompok.
    5. Guru dapat menjadi model bagi siswa dalam bersikap kritis terhadap hasil belajarnya.
      1. Manfaat PTK Bagi Sekolah
      2. Dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
      3. Membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan kemajuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah tersebut.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A. Karakteristik Pembelajaran Matematika

Menurut J. Peaget (Reilly dan Lowis, 1986) bahwa dalam proses belajar mengajar matematika perlu memperhatikan taraf intelektual anak dan pengalaman belajar anak berikutnya. Zoltan P. Dianes berpendapat bahwa ada enam tahap dalam berpendapat dan ada enam tahap dalam belajar konsep matematika.

  1. Tahap ke-1 Bermain Bebas : Bermain bebas adalah tahp permulaan anak belajar matematika. Anak-anak bermain dengan benda-benda konkret model matematika, sehingga secara langsung siswa dapat berkenalan dengan konsep matematika melalui benda-benda konkret.
  2. Tahap ke-2 Permainan Kecil : Pada tahap ini anak mulai mengamati pola sifat kesamaan dan ketidaksamaan, keteraturan dan ketidakteraturan suatu konsep yang diwakili oleh benda yang benar-benar konkret.
  3. Tahap ke-3 Penelaahan Sifat Bersama : Melalui beberapa permainan yang disajika, siswa mungkin belum dapat melihat sifat bersama dari setiap konsep yang disajikan oleh benda-benda konkret itu. Pada tahap ini diharapkan anak mampu menunjukkan contoh dan bukan contoh.
  4. Tahap ke-4 Representasi : Pada tahap ini anak belajar membuat pernyataan tentang sifat bersama atau konsep yang ditemukan pada ke-3, pernyataan ini adalah representasi berupa diagram atau lisan.
  5. Tahap ke-5 Penyimpulan : Pada tahap ini anak belajar memberi simbol dari hasil tahap ke-4.
  6. Tahap ke-6 Keformalan : Pada tahap ini anak belajar mengorganisasikan konsep-konsep matematika secara formal.

Untuk mencapai prestasi yang optimal pada siswa dibutuhkan suatu perencanaan khusus yang memantau langkah demi langkah perkembangan siswa dalam menguasai keterampilan dasar. Proses pembelajaran yang terjadi hendaknya menciptakan sejumlah pengalaman siswa dalam kegiatan menghitung, menimbang, mencampur benda, menggunting dan kegiatan fisik lainnya yang dirancang untuk membentuk konsep, guru harus mengurangi kegiatan ceramah klasikal. Tugas yang diberikan dirancang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa dan siswa menghabiskan sebagian waktu belajarnya dengan latihan dan pengulangan. Siswa diusahakan sesegera mungkin memperoleh feed back tentang benar atau salah satu langkah yang dilakukan (Woofolk, 1984).

  1. B. Teori-Teori Belajar dalam Pembelajaran Matematika di SD
  2. Teori belajar matematika menurut William Brownell

Teori ini mengemukakan bahwa anak-anak akan memahami apa yang sedang mereka pelajari, jika belajar secara permanen atau secara terus menerus untuk waktu yang lama. Teori ini mendukung penggunaan benda-benda konkret sehingga anak dapat memahami makna konsep dan keterampilan baru yang mereka pelajari.

  1. Teori belajar menurut J. Piaget

Piaget adalah ahli teori belajar yang sangat berpengaruh, beliau adalah seorang psikolog dari Swiss yang meyakini bahwa perkembangan mental pribadi melewati empat tahap : sensori motor, propoperasional, operasi konkret dan operasi formal. Pada tahap operasi konkret (7-12 tahun) anak mengembangkan konsep dengan menggunakan benda-benda konkret untuk menyelidiki hubungan model-model ide abstrak. Anak mulai berpikir logis sebagai akibat adanya kegiatan manipulasi benda-benda konkret.

  1. Teori belajar matematika menurut Jerame S. Brunner

Brunner adalah seorang ahli psikologi konkret, ia lebih peduli terhadap proses belajar dari pada hasil belajar dalam kaitannya dengan pengalaman fisik, Brunner mengemukakan tiga tahap sajian benda yaitu :

  1. Enaktive, berkaitan dengan benda-benda konkret dalam belajar
  2. Iconic, mengacu pada sajian yang berupa gambar dan grafik
  3. Symbolic, mengacu pada penggunaan kata-kata dan simbol

Salah satu penyebab kegagalan guru dalam menyajikan materi pelajaran adalah karena guru tidak berusaha untuk memahami siswa dengan baik, atau model penyajian guru tidak sesuai dengan tingkat pengalaman dan pengetahuan anak. Akibatnya, anak tidak dapat menangkap pesan pembelajaran yang ingin disampaikan guru.

  1. Teori Thorndika yang bersifat behavoristik (mekanistik) memberi warna yang luas perlunya latihan dan mengerjakan soal-soal matematika, sehingga peserta didik diharapkan terampil dan cekatan dalam mengerjakan soal-soal matematika yang beragam. Mengajar dipandang sebagai perencanaan dari urutan bahan pelajaran yang disusun dengan cermat, mengkomunikasikan bahan kepada peserta didik dan membawa mereka untuk praktek menggunakan konsep atau prosedur baru. Konsep dan prosedur baru akan semakin mantap jika makin banyak praktek (latihan) dilakukan. Pada prinsipnya teori Thorndika menekankan banyak memberi praktek dan latihan (Driil and Practice) kepada peserta didik agar konsep dan prosedur dapat mereka kuasai dengan baik.

Menurut Udin S. Winata Putra (1994) : model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang berfungsi sebagai pedoman perancang pengajaran dan peran guru dalam merencanakan serta melaksanakan aktifitas belajar mengajar.

  1. C. Metode Make-Amatch (Lorna Curran, 1994)

Make-amatch/ mencari pasangan sangat cocok untuk digunakan dalam pembelajaran matematika untuk melatih keterampilan siswa dalam menjalankan soal-soal penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan. Dengan penerapan make-amatch siswa akan termotivasi dalam pembelajaran matematika. Adpun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisikan soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
  2. Setiap siswa mendapatkan satu  buah kartu dan memikirkan jawabannya.
  3. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya.
  4. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
  5. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar siswa mendapatkan kartu yang berbeda.
  6. Simpulan.
  7. Penutup.

Metode make-amatch merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran. Dengan menggunakan metode tersebut siswa dapat meningkatkan keterampilannya terhadap materi penjumlahan dan pengurangan pecahan sederhana.

  1. D. Penjumlahan Dan Pengurangan Pecahan

Pecahan dan operasinya merupakan salah satu topik matematika SD yang masih dirasakan sulit oleh banyak siswa, dan masih dirasakan sulit oleh banyak guru dalam mengajarkannya. Adapun definisi pecahan adalah suatu lambang yang memuat pasangan berurutan bilangan-bilangan bulat p dan q (q ≠ 0), dituliskan dengan p/q untuk menyatakan nilai x yang memenuhi hubungan p/q = x. Jadi bilangan rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan sebagai pecahan p/q yang mana p dan q adalah bilangan-bilangan bulat dan q ≠ 0. Jadi jelas bahwa pecahan merupakan lambang baku bilangan rasional.

Operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan rasional mempunyai beberapa kesamaan dengan sifat-sifat dalam penjumlahan (+) dan pengurangan (-) bilangan bulat.

BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Tempat  Penelitian dan Waktu

  1. Tempat pelaksanaan

Perbaikan pembelajaran matematika untuk kelas SAYA MENGAJAR

  1. Waktu pelaksanaan

TERSERAH KALIAN MAU DI ISI APA…..

  1. Pihak yang terlibat dalam penelitian ini adalah:
  2. Seluruh siswa kelas SAYA MENGAJAR
  3. Guru kelas SAYA MENGAJAR.
  4. Seorang guru pengamat. (YG BENER KAYAKNYA OBSERVER DEH)

B. Deskripsi Tiap Siklus

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan perbaikan mata pelajaran matematika dilakukan masing-masing dua siklus. Tiap siklus melalui empat tahap kegiatan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan/ pengumpulan data, dan tahap refleksi.

Kegiatan merancang dan melaksanakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan PTK dapat digambarkan dalam bentuk gambar berikut ini:

Siklus I                                                        Siklus II

Keterangan :

M  : Merencanakan                                         P  : Pengamatan/ pengumpulan data

L  : Melaksanakan                                           R  : Refleksi

  1. 1. Siklus I (Satu)
  2. a. Tahap Perencanaan

Perencanaan dilaksanakan pada hari KAMU ISI SENDIRI YAW… BISA KAN????? bersama teman sejawat dan pembimbing. Setelah permasalahan diketahui, peneliti bersama teman sejawat dan dengan arahan pembimbing merancang langkah-langkah pembelajaran yang akan ditampilkan dalam Penelitian Tindakan Kelas siklus I.

Langkah-langkah pada tahap di atas adalah:

  • Menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) dan langkah-langkah perbaikan.
  • Menyiapkan alat peraga yang dipergunakan.
  • Membuat alat bantu pembelajaran.
  • Membuat lembar kerja siswa.
  • Membuat alat evaluasi

  1. b. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan Siklus I dilaksanakan pada tanggal KAMU ISI SENDIRI YAW dengan materi penjumlahan dan pengurangan pecahan.

Pada pelaksanaan pembelajaran penulis dibantu teman sejawat sebagai pengamat, yang bertugas membantu penulis untuk mengamati selama proses pembelajaran serta merekam dan mengumpulkan data yang dibutuhkan dengan beberapa langkah pembelajaran yang diambil sebagai berikut:

  • Setiap siswa diharuskan mencari penjumlahan dan pengurangan pecahan.
  • Guru menjelaskan arti penjumlahan dan pengurangan pecahan.
  • Siswa diharapkan aktif terhadap apa yang dipelajari.
  • Siswa menghitung penjumlahan dan pengurangan pecahan.

  1. c. Tahap Pengamatan/ Pengumpulan Data

Pada tahapan ini dilakukan pengamatan oleh seorang pengamat terhadap situasi, selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan dituangkan dalam lembar observasi yang telah dipersiapkan oleh peneliti. Observasi dilakukan pada guru dan siswa.

Pengamatan terhadap guru meliputi:

  • Persiapan mengajar.
  • Pengadaan alat peraga.
  • Penguasaan materi.
  • Penggunaan metode
  • Kesesuaian alat peraga dengan materi.
  • Pemanfaatan alat peraga.
  • Beberapa keterampilan dasar mengajar.
  • Evaluasi.

Pengamatan terhadap siswa meliputi:

  • Keaktifan siswa.
  • Keterlibatan siswa dalam menggunakan alat peraga.
  • Ketepatan dalam menjawab pertanyaan guru.
  • Emosional siswa.
  • Melakukan diskusi kelompok.
  • Kerja sama dalam kelompok.
  • Menyusun laporan diskusi.
  • Melaporkan hasil diskusi.
  • Mengerjakan tugas yang diberikan guru.

  1. d. Tahap Refleksi

Berdasarakan hasil observasi dapat dilakukan analisis dan refleksi. Hasil refleksi pada siklus I sebagai berikut:

  • Masih ada siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran.
  • Kurangnya keterampilan guru dalam bertanya, sehingga siswa terkesan pasif.
  • Siswa dalam menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan menggunakan soal cerita ada yang kurang benar.
  • Secara garis besar kegiatan belajar mengajar pada siklus I perlu dibenahi agar mencapai hasil yang baik.

  1. 2. Siklus II (Dua)
  2. a. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II dilaksanakan pada hari MIKIR DIKIT AJA YAW dengan membuat skenario perbaikan pembelajaran dan berdiskusi dengan pengamat.

Berdasarkan refleksi hasil pembelajaran siklus I, maka untuk mengatasi kegagalan-kegagalan yang masih ditemui dalam pembelajaran siklus I, peneliti berkonsultasi dengan pembimbing pada hari GA SAH DISEBUTKAN JG GA PA” YAW. Hasil konsultasi dengan pembimbing peneliti gunakan untuk menyusun rencana perbaikan untuk pembelajaran kelas III. Rencana pembelajaran siklus II dituangkan ke dalam Rencana Perbaikan Pembelajaran II (RPP II) yang menjadi panduan peneliti dalam melaksanakan pembelajaran siklus II, yang memuat tindakan-tindakan perbaikan atau langkah-langkah perbaikan dari siklus I.

Langkah-langkah pada tahap di atas adalah:

  • Menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) dan langkah-langkahnya.
  • Menyiapkan alat peraga yang digunakan.
  • Membuat alat bantu mengumpulkan data.
  • Membuat lembar observasi siswa dan guru.
  • Membuat lembar kerja siswa.
  • Membuat alat evaluasi.

  1. b. Tahap Pelaksanaan

Siklus II dilaksanakan pada TERSERAH KAMU AJA YAW dengan materi menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan menggunakan soal cerita. Langkah-langkah yang diambil adalah:

  • Setiap siswa menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berkaitan dengan soal cerita.
  • Setiap siswa menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan menggunakan rumus.
  • Guru membimbing siswa yang belum mampu mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan penjumlahan bilangan pecahan.
  • Siswa mengerjakan tes formatif II.

  1. c. Tahap Observasi

Pada tahapan ini dilakukan pengamatan oleh seorang pengamat terhadap situasi, selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan dituangkan dalam lembar observasi yang telah dipersiapkan oleh peneliti observasi dilakukan pada guru dan siswa.

Pengamatan terhadap guru meliputi:

  • Persiapan mengajar.
  • Pengadaan alat peraga.
  • Penguasaan materi.
  • Penggunaan metode.
  • Kesesuaian alat peraga dengan materi.
  • Pemanfaatan alat peraga.
  • Beberapa keterampilan dasar mengajar.
  • Evaluasi.

Pengamatan terhadap siswa meliputi:

  • Keaktifan siswa.
  • Keterlibatan siswa dalam menggunakan alat peraga.
  • Ketepatan dalam menjawab pertanyaan guru.
  • Emosional siswa.
  • Melakukan diskusi kelompok.
  • Kerja sama dalam kelompok.
  • Menyusun laporan diskusi.
  • Melaporkan laporan diskusi.
  • Mengerjakan tugas yang diberikan guru.

  1. d. Tahap Refleksi

Berdasarkan hasil penelitian pada siklus II diperoleh analisis data yang akurat yang dapat menjadi tolok ukur bagi guru untuk melaksanakan tindakan selanjutnya. Hasil refleksi pada siklus II sebagai berikut:

  • Siswa aktif dalam pembelajaran.
  • Hasil nilai tes formatif II sudah baik.
  • Siswa dalam menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dengan menggunakan soal cerita dan rumus.
  • Secara garis besar kegiatan belajar mengajar pada siklus II sudah baik dengan hasil yang memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

LAGI” DAFTAR PUSTAKA TIDAK LULUS SENSOR….. MAAV….

NB : APABILA ANDA BINGUNG MEMBACA LAPORAN PKP INI DISARANKAN UNTUK SEGERA MINUM OBAT…..!!!!!

4 pemikiran pada “contoh proposal PKP

  1. salam kenal,
    aku gak bingung kok? aku juga lagi nyusun PTK, kebetulan aku ketua Pokja MGMP BERMUTU yang sedang mengembangkan kegiatan kritis berupa penelitian ilmiah diantaranya adalah PTK.
    Your research will be more advantageous when i try to share it to my friends at my community.

    alhamdulillah kalo bgt….. semoga contph diatas bermanfaat.
    setahu saya untuk format PTK untuk pengajuan PAK harus sesuai dengan format dari LPMP. jadi mungkin format di atas tidak sesuai. trimakasih
    .

  2. trims…… untung ada contoh ini sehingga saya tdk perlu kelabakan pas dapat tugas membuat proposal untuk laporan PKP. Semoga tdk kapok mengirim yang seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s