contoh PTK

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN QUANTUM TEACHING PADA SUB POKOK BAHASAN KALOR SISWA KELAS **** SEMESTER *** SMP ************
TAHUN AJARAN ********
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dengan siswa. Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila siswa mencapai kompetensi yang diharapkan, karena hal itu merupakan cerminan dari kemampuan siswa dalam menguasai suatu materi. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan guru dalam memilih dan menggunakan metode dan media yang tepat dan efektif.
Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam yang merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisir tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah. Namun pada saat ini sains (Fisika) merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa sekolah menengah. Hal ini disebabkan oleh banyaknya rumus Fisika yang memerlukan analisis perhitungan matematis. Selain itu kebanyakan guru masih menyajikan pelajaran dengan kata-kata verbal dan cenderung menggunakan metode pembelajaran yang konvensional. Hal ini menimbulkan kesan bahwa pelajaran Fisika menegangkan. Oleh karena itu pembelajaran Fisika harus dibuat lebih menarik dan menyenangkan. Untuk mewujudkan hal itu salah satunya diperlukan metode pembelajaran yang dapat mendukung situasi pembelajaran, agar pelajaran Fisika menjadi menarik, mudah dipahami dan menyenangkan.
Metode pembelajaran Quantum Teaching merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat dipilih agar pembelajaran menjadi efektif, efisien, dan menyenangkan. Quantum Teaching atau yang juga dikenal dengan istilah pembelajaran kuantum merupakan suatu metode pembelajaran yang telah diterapkan di banyak negara dan banyak mendapatkan pujian dari para pakar.
Menurut De Porter (2004:3) Quantum Teaching merupakan penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya yang berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas. Dengan adanya metode pembelajaran Quantum Teaching diharapkan situasi pembelajaran Fisika yang menegangkan menjadi pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa lebih mudah mencapai kompetensi yang diharapkan.
Dengan asas utama “bawalah dunia mereka ke dalam dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka” serta perancangan pembelajaran yang dinamis dengan kerangka TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan) membuat proses pembelajaran tetap berpusat pada siswa dan guru sebatas sebagai fasilitator sehingga siswa dapat memahami konsep Fisika lebih mudah dan menyenangkan. Dengan kerangka TANDUR keaktifan siswa akan lebih ditingkatkan, membuat pelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa diajak untuk mengalami sendiri.
Berdasarkan hasil observasi awal di *********** diperoleh data bahwa pembelajaran Fisika di kelas ***I. G memiliki indikasi hasil belajar yang rendah. Hal ini dapat ditunjukkan dari rata-rata nilai ulangan harian siswa pada pokok bahasan Suhu adalah 52,03 dengan ketuntasan belajar yang dicapai 27%. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan Kalor, maka
dilakukan penelitian dengan menggunakan metode pembelajaran Quantum Teaching.
Dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dengan Quantum Teaching Pada Sub Pokok Bahasan Kalor Siswa Kelas *** Semester*** SMP ********* Tahun Ajaran **********

B. Perumusan Masalah
Dari uraian di atas timbul permasalahan yaitu apakah penggunaan metode pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar Fisika Pada Sub Pokok Bahasan Kalor Siswa Kelas *** Semester **SMP ******* Tahun Ajaran ********?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan metode pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas **** semester **SMP ******* tahun ajaran ********
D. Manfaat Penelitian
Hasil pelaksanaan penelitian ini akan memberikan manfaat:
1. Bagi siswa
a. Mencapai hasil belajar akademik
b. Melatih mengembangkan keterampilan sosial siswa
c. Meningkatkan motivasi dan disiplin dalam belajar Fisika

2. Bagi guru
a. Menambah variasi metode pembelajaran
b. Meningkatkan profesionalitas

E. Penegasan Istilah
Dalam penelitian ini ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan agar tidak terjadi salah penafsiran. Adapun istilah-istilah yang dijelaskan antara lain:
1. Quantum Teaching
Quantum Teaching merupakan penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya yang berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas (De Porter, 2004:3).
Quantum Teaching yang digunakan dalam penelitian ini melalui penciptaan lingkungan belajar yang mendukung serta pembelajaran dengan kerangka TANDUR.
2. Hasil Belajar
Sudjana (2001:22), menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
3. Kalor
Kalor merupakan pokok bahasan Fisika untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas VIII semester I sesuai dengan kurikulum tahun 2004.

F. Sistematika Skripsi
Susunan skripsi ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian akhir skripsi.
1. Bagian Pendahuan
Berisi halaman judul, persetujuan pembimbing, pengesahan kelulusan, pernyataan, motto dan persembahan, kata pengantar, sari, daftar isi, daftar lampiran, daftar gambar dan daftar tabel.
2. Bagian Isi
Terdiri dari lima bab, yaitu:
Bab I : Pendahuluan
Berisi latar belakang pemilihan judul, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah dan sistematika skripsi.
Bab II : Landasan Teori
Berisi teori-teori yang mendukung dan berkaitan dengan permasalahan, yang meliputi: pengertian belajar dan pembelajaran, hasil belajar, pembelajaran Quantum Teaching, materi Kalor dan hipotesis.
Bab III : Metode Penelitian
Berisi metode-metode yang digunakan untuk analisis data, yang meliputi: tempat dan subjek penelitian, faktor yang diteliti, pelaksanaan penelitian, metode pengumpulan data, metode analisa data dan indikator keberhasilan.

Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan
Berisi hasil-hasil penelitian yang diperoleh meliputi hasil belajar (kognitif, afektif dan psikomotorik) dan hasil Kuesioner siswa yang disertai dengan analisa data serta pembahasan.
Bab V : Penutup
Berisi simpulan dari hasil penelitian dan saran.
3. Bagian Akhir Skripsi
Berisi daftar pustaka dan lampiran.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sejak lahir, manusia telah mulai melakukan kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan dan mengembangkan dirinya. Pandangan seseorang tentang belajar akan mempengaruhi tindakan-tindakannya yang berhubungan dengan belajar. Banyak sekali definisi belajar yang telah dikemukakan para ahli pendidikan, antara lain: W.S. Winkel, Morris L. Bigge, Moskowitz dan Arthur R. Orgel, James O. Wittaker, Aaron Quinn Sartain. Dari beberapa definisi belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang yang terjadi secara terus-menerus sebagai akibat dari pengalaman atau latihan.
Pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan, atau sikap baru pada saat individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan (Wartono, 2004:15). Pembelajaran dapat terjadi sepanjang waktu, misalnya belajar sesuatu pada saat berjalan-jalan, melihat TV, berbicara dengan orang lain, atau hanya sekedar mengamati apa yang terjadi disekitar.
Menurut Darsono (2004:25), dikemukakan ciri-ciri dan tujuan pembelajaran sebagai berikut :
1. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis
2. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar
3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa
4. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu/alat peraga yang tepat dan menarik
5. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa
6. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran baik secara fisik maupun psikologis
Dari uraian di atas maka diambil kesimpulan bahwa pembelajaran bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengetahuan, keterampilan, nilai dan norma sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa.

B. Hasil Belajar
Hasil belajar memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. Penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui berbagai kegiatan belajar. Selanjutnya, dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu.
Sudjana (2001:22) menegaskan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dalam sistem pendidikan nasional, rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yaitu: ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.
Hasil belajar yang diukur dalam penelitian ini adalah hasil belajar pada ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Hasil belajar ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual, yang dinyatakan dengan nilai yang diperoleh siswa setelah menempuh tes evaluasi pada pokok bahasan Kalor.
Hasil belajar ranah kognitif terdiri dari 6 aspek, yaitu: (1) Pengetahuan (knowledge) yaitu jenjang kemampuan mencakup pengetahuan faktual di samping pengetahuan hafalan dan atau ingatan (rumus, batasan, definisi, istilah-istilah). (2) Pemahaman, misalnya menghubungkan grafik dengan kejadian, menghubungkan dua konsep yang berbeda. (3) Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan dan menggunakan abstraksi yang berupa ide, rumus, teori ataupun prinsip-prinsip ke dalam situasi baru dan konkret. (4) Analisis adalah usaha menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen-komponen pembentuknya. (5) Sintesis adalah kemampuan menyatukan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam bentuk yang menyeluruh. (6) Evaluasi adalah kesanggupan memberikan keputusan nilai tentang sesuatu berdasarkan pendapat dan pertimbangan yang dimiliki dan kriteria yang dipakai.
Hasil belajar ranah afektif berhubungan dengan sikap, minat emosi, perhatian, penghargaan dan pembentukan karakteristik diri. Hasil belajar afektif tampak dalam siswa dalam tingkah laku, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman serta hubungan sosial.
Menurut David Karthwohl dalam Munaf (2001:76), ranah afektif terdiri dari 5 aspek, yaitu: (1) Penerimaan, yaitu penerimaan secara pasif terhadap masalah situasi, nilai dan keyakinan. Contoh mendengarkan penjelasan guru. (2) Jawaban, yaitu keinginan dan kesenangan menanggapi/merealisasikan sesuatu. Contoh menyerahkan laporan praktikum tepat waktu. (3) Penilaian, yaitu berkaitan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau situasi tertentu. Contoh bertanggung jawab terhadap alat-alat laboratorium. (4) Organisasi, yaitu konseptualisasi nilai-nilai menjadi sistem nilai. (5) Karakteristik, yaitu keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki siswa yang mempengaruhi pola kepribadian siswa.
Hasil belajar ranah psikomotorik berhubungan dengan ketrampilan, kemampuan gerak dan bertindak. Psikomotorik biasanya diamati pada saat siswa melakukan praktikum/percobaan.
Menurut Harrow dalam Munaf (2001:77), ranah psikomotorik terdiri dari 6 aspek, yaitu:
(1) Gerakan refleks, yaitu gerakan yang tidak disadari yang dimiliki sejak lahir.
(2) Ketrampilan gerakan-gerakan dasar, yaitu gerakan yang menuntut kepada ketrampilan yang sifatnya kompleks.
(3) Kemampuan perseptual, termasuk membedakan visual dan auditorial.
(4) Kemampuan dibidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan ketepatan.
(5) Gerakan-gerakan skill, yaitu dari ketrampilan sederhana sampai kompleks.
(6) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi, seperti gerakan ekspresif.

C. Pembelajaran Quantum Teaching
Menurut De Porter (2004:4) pembelajaran Fisika dengan penerapan Quantum Teaching merupakan metode pembelajaran yang segar, praktis dan mudah diterapkan. Dengan Quantum Teaching menguraikan cara baru untuk memaksimalkan dampak usaha pangajaran melalui pengembangan hubungan dan penggubahan belajar.
Dengan Quantum Teaching ada pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen pembelajaran. Interaksi tersebut mencapai pembelajaran fisika yang efektif yang dapat mempengaruhi siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi siswa sendiri dan bagi orang lain (De Poter, 2004:5)
Pendekatan yang dilakukan dalam Quantum Teaching adalah prinsip-prinsip dan teknik-teknik Quantum learning di ruang kelas. Dalam teknik Quantum Learning, proses pembelajaran diibaratkan sebagai sebuah konser musik, dimana ruang didesain dengan indah dan menyenangkan, guru seolah-olah sedang memimpin konser saat berada di ruang kelas. Guru memahami sekali bahwa setiap siswa mempunyai karakter masing-masing, karakter yang dimiliki siswa ini dapat dimanfaatkan untuk membawa siswa sukses dalam belajar.

1. Azas Quantum Teaching
Azas Quantum Teaching yaitu “bawalah dunia mereka (siswa) ke dunia kita (guru) dan antarkan dunia kita (guru) ke dunia mereka (siswa)”. Maksudnya, seorang guru Fisika harus membuat jembatan autentik memasuki kehidupan siswa sebagai langkah pertama. Jembatan autentik dapat diciptakan dengan cara mengaitkan apa yang akan guru ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan siswa sehari-hari (rumah, sosial, atletik, musik, seni, kreasi, akademis dan sebagainya).
Dalam pembelajaran Fisika misalnya pada pokok bahasan Kalor, contoh dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tentang proses mendidihnya air (memasak air). Setelah kaitan terbentuk guru dapat membawa siswa ke dunia guru dan di sinilah guru memberi siswa pemahaman tentang materi Kalor terutama mengenai persamaan matematis, berupa hubungan Kalor dengan suhu, massa dan jenis zat.

2. Prinsip-prinsip Quantum Teaching
a. Segalanya Berbicara
Segalanya dari lingkungan kelas, bahasa tubuh guru (tatapan mata, gerakan tangan dan sebagainya), kertas yang dibagikan, rancangan pelajaran, alat bantu mengajar (penggaris, kapur berwarna), alat peraga atau demonstrasi tentang Kalor (dengan air biasa, air es dan air panas), semuanya mengirim pesan tentang membelajaran Fisika.
b. Segalanya Bertujuan
Pembelajaran yang dilakukan guru harus mempunyai tujuan, yaitu agar siswa mencapai kompetensi yang diharapkan yang nantinya dapat bermanfaat dikehidupan siswa.
c. Pengalaman Sebelum Pemberian Nama
Pembelajaran Fisika yang baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi tentang Kalor melalui demonstrasi (dengan air biasa, air panas dan air es) sebelum siswa memperoleh nama atau konsep yang akan dipelajari.
d. Pengakuan Setiap Usaha
Pada dasarnya semua orang senang diakui, karena pengakuan membuat kita merasa bangga, percaya diri dan bahagia. Penelitian mendukung konsep bahwa kemampuan siswa meningkat karena pengakuan guru. Dalam kajian Golden Wells (1986) dalam De Porter (2004:29) mengenai bahasa belajar anak-anak, dia mencatat:
Jika anak-anak diharapkan melakukan transisi dengan mudah dan percaya diri, mereka haruslah mengalami lingkungan baru sekolah sebagai sesuatu yang menggairahkan dan menantang. Dalam lingkungan ini, sebagian besar usaha mereka harus berhasil dan mereka harus diakui sebagai diri mereka dan apa yang dapat mereka lakukan. Anak-anak yang merasa, atau dibuat merasa, tidak diterima atau tidak kompeten akan lambat memulihkan rasa percaya diri dan, akibatnya, kemampuan mereka untuk memanfaatkan kesempatan belajar diperbesar yang disediakan sekolah tersebut bahkan mungkin berkurang, dalam kasus eksterm, rusak dan tidak dapat lagi diperbaiki.
Belajar Fisika mengandung resiko, karena melangkah keluar dari kenyamanan. Oleh karena itu siswa patut mendapatkan pengakuan atas kecakapan (dalam melakukan percobaan) dan kepercayaan diri siswa atas keberanian siswa mempresentasikan hasil percobaan didepan kelas. Semua usaha siswa harus diakui, tidak hanya usaha yang tepat, tapi juga proses belajar perorangan, karena dapat meningkatkan rasa percaya diri.
e. Fisika Layak Dipelajari, maka Layak pula Dirayakan
Perayaan atau pemberian penguat akan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan peningkatan emosi positif, siswa terbebas dari ketegangan sehingga lebih semangat dalam pembelajaran Fisika dan mengajarkan kepada siswa mengenai motivasi. Siswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga pembelajaran siswa lebih dari sekedar mencapai nilai tertentu. Perayaan membangun keinginan untuk sukses.
Setelah selesai siswa melakukan percobaan dan mendemonstrasikan hasilnya maka guru memberikan aba–aba untuk bertepuk tangan bersama–sama atas hasil kerja siswa.
3. Menciptakan Lingkungan yang Mendukung
Belajar terjadi baik secara sadar maupun tidak sadar dalam waktu bersamaan. Otak senantiasa dibanjiri stimulus dan memilih fokus tertentu. Lingkungan yang ditata untuk mendukung belajar dapat berkata “belajar itu hidup, segar, penuh semangat”, atau “datang dan jelajahilah”. Apa yang dikatakan lingkungan kelas dari cara poster ditempelkan di dinding, pengaturan bangku, penyusunan bahan pembelajaran, hingga tingkat kebersihan kelas semuanya berbicara.
a. Lingkungan Sekeliling
Guru dapat menggunakan alat peraga dalam pembelajaran untuk mengawali proses belajar dengan cara merangsang modalitas visual. Segala sesuatu dalam lingkungan kelas menyampaikan pesan yang memacu atau menghambat belajar (De Porter, 2004:66). Lingkungan pembelajaran perlu dikelola agar kondusif. Lingkungan ini tidak terbatas hanya pada lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan non fisik. Tentunya tidak dikehendaki lingkungan belajar yang amburadul, tetapi juga tidak sepi mencekam.
Memahami kaitan antara pandangan sekeliling dan otak dimanfaatkan untuk mengubah lingkungan belajar yang mendukung. Gerakan mata selama belajar dan berfikir terikat pada modalitas visual, auditorial dan kinestetik. Dengan kata lain, mata kita bergerak menurut cara otak mengakses informasi. Bola mata menggambarkan apa yang kita fikirkan, misalnya bergerak naik maka sedang menciptakan atau mengingat.
Ide yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
1). Poster Afirmasi
Poster afirmasi merupakan poster yang digunakan untuk penguat seperti dialog internal, fungsinya untuk menguatkan keyakinan tentang belajar. Contoh poster yang digunakan berbunyi “Satu-satunya pertanyaan bodoh adalah pertanyaan yang tidak anda lontarkan”, “Tidak ada alasan untuk tidak menjadi hebat” dan lain sebagainya. Poster-poster tersebut ditempel di dinding kelas.
2). Warna
Otak berpikir dalam warna, fungsi dari warna untuk memperkut pembelajaran guru, misalnya kapur berwarna digunakan untuk kata-kata penting, menggarisbawahi dan lain sebagainya.

b. Pengaturan Bangku
Sebagian besar ruang kelas, bangku siswa dapat disusun untuk mendukung tujuan pembelajaran yang diajarkan.
c. Aroma
Kaitan antara kelenjar penciuman dan sistem saraf otonom cukup kuat, apa yang kita cium memicu respon seperti kecemasan, kelaparan, ketegangan, atau depresi. Manusia dapat meningkatkan kemampuan berfikir mereka secara kreatif sebanyak 30% saat diberikan wangi bunga tertentu (De Porter, 2004:72). Daerah penciuman merupakan reseptor endofirin yang menyuruh tanggapan tubuh menjadi merasa senang dan nyaman, contohnya: mint, jeruk, dan mawar memberikan ketenangan dan relaksasi.
4. Membuat Rancangan Pengajaran yang Dinamis
Kerangka rancangan pembelajaran Quantum Teaching dikenal dengan TANDUR. Dengan kerangka ini diharapkan siswa menjadi tertarik dan berminat pada pelajaran, karena siswa mengalami pembelajaran, berlatih, menjadikan isi pelajaran yang nyata bagi siswa.
a. Tumbuhkan
Kegiatan ini bertujuan agar siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran, menciptakan jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami.
Strategi yang bisa dilakukan antara lain dengan memberikan pertanyaaan tuntunan seperti: hal apa yang siswa pahami?, apa yang siswa setujui?, apakah manfaatnya bagi-ku (AMBAK)?.
b. Alami
Kegiatan ini untuk memberikan pengalaman pada siswa dan memanfaatkan keingintahuan siswa.
Strategi yang dapat digunakan antara lain dengan cara memberikan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) untuk praktikum, dan kegiatan yang mengaktifkan pengetahuan yang sudah siswa miliki.
c. Namai
Fungsi dari penamaan untuk memberikan identitas, mengurutkan dan mendefinisikan apa yang telah guru ajarkan. Penamaan merupakan informasi, fakta, rumus, pemikiran, tempat dan saatnya guru untuk mengajarkan konsep, keterampilan berfikir, dan strategi belajar.
Strategi yang dapat digunakan untuk penamaan antara lain: susunan gambar, warna, alat bantu, kertas tulis dan poster di dinding.
d. Demonstrasikan
Kegiatan ini untuk memberikan siswa peluang menterjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka dalam pembelajaran. Demonstrasi memberikan kesempatan pada siswa untuk membuat kaitan, berlatih dan menunjukkan apa yang siswa ketahui.
Strategi yang dapat digunakan yaitu menampilkan hasil percobaan, penjabaran dalam grafik, permainan dan sebagainya.

e. Ulangi
Pengulangan berfungsi untuk memperkuat koneksi syaraf dengan materi yang telah diajarkan. Strategi yang dapat digunakan antara lain memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengajarkan pengetahuan siswa kepada siswa lain dan pengulangan bersama.
f. Rayakan
Perayaan memberikan rasa rampung dengan menghormati usaha, ketekunan dan kesuksesan.
Strategi yang dapat dilakukan misalnya: tepuk tangan, pengakuan kekuatan pujian (perkataan bagus), poster umum, catatan pribadi, kejutan, persekongkolan, pernyataan afirmasi atau pernyataan yang mendukung.
Salah satu indikator keberhasilan guru dalam pembelajaran adalah adanya perubahan hasil belajar (kognitif, afektif dan psikomotorik) yang lebih baik setelah siswa mengalami proses pembelajaran. Untuk mencapai indikator tersebut guru perlu menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif serta pembelajaran yang didalamnya melibatkan keaktifan siswa. Melalui metode pembelajaran Quantum Teaching dengan kerangka TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan), siswa dilatih untuk kreatif dan aktif sehingga afektif dan psikomotorik siswa dapat berkembang. Disamping itu fungsi perayaan didalam Quantum Teaching memungkinkan anggapan Fisika sebagai pelajaran yang menegangkan dapat berubah menjadi pelajaran yang menyenangkan. Jika siswa berada dalam lingkungan pembelajaran yang kondusif serta suasana pembelajaran menyenangkan diharapkan siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan, sehingga hasil belajar kognitif siswa dapat optimal.

D. Materi Kalor Kalor merupakan materi pokok kelas *** Semester ** untuk SMP dalam kurikulum 2004, uraian materinya yaitu:
1. Kalor Sebagai Bentuk Energi.
Kalor erat hubungannya dengan suhu. Bila suhu menyatakan derajat panas suatu benda, maka kalor menyatakan jumlah panas suatu benda. Air panas mempunyai suhu yang lebih tinggi daripada air dingin.
Kalor merupakan salah satu bentuk energi, salah satu bukti bahwa kalor merupakan suatu bentuk energi, dapat kita perhatikan dari peristiwa berikut: air yang dipanaskan menerima kalor, sehingga molekul-molekul air bergerak dengan lebih cepat, hal ini dapat kita amati dari kenaikan suhu air.
Karena kalor merupakan suatu bentuk energi, maka kalor memiliki satuan. Satuan kalor dinyatakan dengan kalori (disingkat kal). Satu kalori adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk memanaskan satu gram air sehingga suhunya naik 1 0C (1 kilokalori = 1 kkal = 1000 kal).
Satuan kalor juga dapat dinyatakan dengan satuan joule
1 kkal = 4,2 x 103 joule
1 kal = 4,2 joule
2. Kalor dan Perubahan Suhu
Jika kita memanaskan suatu benda diperlukan kalor sehingga suhunya naik. Banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda sebanding dengan perubahan suhu, jenis zatnya/kalor jenis serta massa zatnya. Hal ini dituliskan dalam persamaan Q = m.c.Δt
Q = banyaknya kalor yang diperlukan (J)
m = massa benda (kg)
c = kalor jenis zat (J/kg 0C)
Δt = perubahan suhu (0C)
Definisi kalor jenis adalah bilangan yang menunjukkan banyaknya kalor yang diperlukan oleh suatu benda yang bermassa 1 kg untuk menaikkan suhunya 1 0C.

E. HIPOTESIS
Berdasarkan kerangka teoritik di atas maka hipotesis tindakan dari penelitian ini adalah “terjadi peningkatan hasil belajar pada sub pokok bahasan kalor siswa kelas *** semester **SMP ****tahun ajaran ******* setelah digunakan metode pembelajaran Quantum Teaching”.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas ***I semester **SMP **** tahun ajaran ****** yang beralamatkan di jalan ***************. Untuk kelas *** semester * **** terdiri dari tujuh kelas yaitu ****************. Kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas ***** dengan jumlah siswa 0 yang terdiri dari 0 siswa laki-laki dan 0 siswa perempuan. Kelas ini menjadi subyek penelitian setelah dipilih secara acak.

B. Faktor yang Diteliti
Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa meliputi hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik serta keterkaitan dan tanggapan siswa terhadap metode pembelajaran Quantum Teaching:

C. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Dalam pelaksanaannya peneliti berkolaborasi dengan guru kelas untuk bersama-sama melakukan penelitian, dalam hal ini peneliti menyediakan semua perangkat yang digunakan untuk penelitian. Guru kelas tetap menjalankan perannya sebagai guru bidang studi, melakukan evaluasi dan mengobservasi

kegiatan siswa di kelas selama PBM berlangsung. Ada dua siklus yang dilakukan dalam penelitian. Tiap-tiap siklus terdiri dari empat tahap, meliputi: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Tahapan-tahapan tiap siklus adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan yang dilakukan antara lain:
a. Observasi awal dan identifikasi masalah mengenai hasil ulangan harian siswa pokok bahasan sebelumnya (Suhu), metode pembelajaran yang biasa digunakan dan fasilitas di dalam laboratorium.
b. Menyusun skenario pembelajaran dengan metode Quantum Teaching meliputi pemasangan poster-poster afirmasi, pengharum ruangan dan pembelajaran dengan kerangka TANDUR. Menyusun perangkat pembelajaran seperti silabus dan sistem penilaian, rencana pembelajaran (RP), lembar kerja siswa (LKS) petunjuk pelaksanaan percobaan atau demonstrasi serta menyiapkan alat dan bahan yang terkait dengan pelaksanaan percobaan atau demonstrasi.
c. Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar kognitif siswa. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda (multiple choice) dengan empat alternatif jawaban.
d. Menyusun lembar observasi untuk penilaian afektif dan psikomotorik siswa. Lembar observasi afektif dan psikomotorik yang digunakan berbentuk skala bertingkat (rating scale), yaitu sebuah pernyataan yang diikuti kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan penskoran dengan skala penskoran sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
e. Menyusun kisi-kisi soal uji coba beserta jawaban
f. Melakukan uji coba dan analisis soal evaluasi
g. Sebelum soal evaluasi diberikan pada siswa terlebih dahulu diujicobakan guna mendapatkan perangkat tes yang valid dan reliabel serta memiliki daya beda dan taraf kesukaran yang baik. Soal evaluasi ini diujicobakan tanggal 20 September 2005.
1) Validitas Sebuah instrumen atau soal tes dikatakan valid apabila instrumen tersebut mampu mengukur apa yang hendak diukur (Arikunto, 2002:146).
Rumus yang digunakan untuk mengetahui validitas suatu soal yaitu rumus korelasi korelasi product moment angka kasar:
(Arikunto, 2002:146)
keterangan:
rXY = Validitas tiap butir soal
X = Skor tiap butir soal
Y = Skor total yang benar dari tiap subjek
N = Jumlah peserta tes
Harga r yang diperoleh dikonsultasikan dengan r table product moment dengan taraf signifikan 5%. Jika harga r hitung > r table product moment maka item soal yang diuji bersifat valid. Sebagai contoh perhitungan dapat dilihat pada lampiran.
2) Reliabilitas
Realibilitas artinya mampu mengukur apa yang hendak diukur. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut memberikan hasil yang tetap (Arikunto, 1999:86).
Reliabilitas dihitung dengan rumus KR-20 sebagai berikut :
Analisis reliabilitas menggunakan:
(Arikunto, 2002:163)
keterangan:
11r = reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyaan
Vt = varians total
P = proporsi subjek yang menjawab item betul
q = proporsi subjek yang menjawab item salah
(q = 1 – p)

Vt = (Arikunto, 2002:163)
Di mana :
X = skor siswa
N = jumlah siswa
Dengan taraf signifikansi 5%, soal dikatakan reliabel jika r11 > r tabel. Dari hasil uji coba instrumen dan perhitungan diperoleh r11 sebesar 0.946 > rtabel ini artinya instrumen tersebut reliabel. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.
3) Tingkat Kesukaran Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar.
Rumus yang digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran soal adalah sebagai berikut:
(Arikunto, 2002:208)
keterangan:
P = Indeks kesukaran soal
B = Banyaknya jawaban yang benar
JS = Jumlah siswa peserta tes
Menurut Arikunto (1999:210), indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut:
Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar
Soal dengan P antara 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang
Soal dengan P antara 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah
Sebagai contoh perhitungan dapat dilihat pada lampiran.
a. Daya Pembeda
Daya pembeda sebuah butir soal adalah kemampuan butir soal itu membedakan antara testi yang (siswa) yang pandai atau berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.
Untuk menentukan daya pembeda butir soal:
(Arikunto, 2002: 213)
Keterangan:
DP = Daya Pembeda
BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
BB = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar
JA = Banyaknya peserta kelompok atas
JB = Banyaknya peserta kelompok bawah
Klasifikasi interpretasi untuk daya pembeda:
DP ≤ 0,00 soal dikatakan sangat jelek
0,00 < DP ≤ 0,20 soal jelek
0,20 < DP ≤ 0,40 soal cukup
0,40 < DP ≤ 0,70 soal baik
0,70 < DP ≤ 1,00 soal sangat baik (Suherman, 1990:202)
Sebagai contoh perhitungan dapat dilihat pada lampiran.
h. Menyusun kisi-kisi kuesioner siswa
i. Menyusun kuesioner siswa
j. Menyusun instrumen kuis Course Review Horay

2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan berupa penerapan skenario pembelajaran yang telah direncanakan, yaitu pembelajaran Fisika pokok bahasan Kalor dengan mengunakan metode pembelajaran Quantum Teaching untuk meningkatkan hasil belajar Fisika.

3. Pengamatan
Pengamatan uraian tentang pengambilan dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari penerapan metode pembelajaran Quantum Teaching.
Pengambilan data tentang hasil belajar melalui tes untuk kemampuan kognitif, lembar observasi untuk kemampuan afektif dan psikomotorik, serta lembar kuesioner untuk menyelidiki tanggapan siswa terhadap metode pembelajaran Quantum Teaching yang telah dilaksanakan.
4. Refleksi
Merupakan kegiatan yang berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang dilakukan. Dari hasil observasi atau pengamatan, guru dan peneliti merefleksi apakah pembelajaran menggunakan metode pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kemudian hasil dari refleksi ini digunakan untuk memperbaiki perencanaan yang telah dilakukan dan digunakan untuk memperbaiki kinerja guru pada pembelajaran selanjutnya.
Secara keseluruhan prosedur penelitian dengan desain penelitian tindakan kelas (PTK) seperti tampak pada bagan berikut:
(buat sendiri)

D. Metode Pengumpulan Data
1. Sumber Data
Sumber data penelitian adalah siswa ************************************
2. Jenis Data dan Cara Pengumpulan Data
Data yang diperoleh meliputi data kuantitatif dan data kualitatif yang terdiri dari:
a) Data tentang kondisi awal siswa diambil dari hasil nilai ulangan harian pokok bahasan sebelumnya (Suhu).
b) Hasil belajar kognitif siswa diperoleh dari pemberian evaluasi (tes tertulis). Penilaian afektif dan psikomotorik diperoleh dari pengamatan melalui lembar observasi.
c) Data hasil tanggapan siswa diperoleh melalui lembar Kuesioner.

E. Metode Analisa Data
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan cara membandingkan hasil belajar siswa sebelum tindakan dengan hasil belajar siswa setelah tindakan pada silus I dan Siklus II. Data dihitung dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Data Hasil Belajar Kognitif
a. Nilai hasil belajar kognitif dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
(Slameto, 2001:189)
b. Menghitung nilai rata-rata hasil belajar siswa sebelum tindakan dengan hasil belajar setelah tindakan pada siklus I dan siklus II untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar, dihitung menggunakan rumus:
(Sudjana, 1999:109)
keterangan:
X = nilai rerata
XΣ = jumlah nilai seluruh siswa
N = banyaknya siswa
2. Data Hasil Observasi

a. Data hasil observasi meliputi penilaian afektif dan psikomotorik yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
(Depdiknas, 2003)
b. Kategori penilaian hasil belajar afektif dan psikomotorik
Dalam penilaian hasil belajar afektif dan psikomotorik digunakan skala dengan rentang dari 4 sampai dengan 1. Dengan demikian jika dalam penelitian ada 5 aspek yang harus diamati, maka skor maksimum adalah 20 dan skor minimumnya 5. Apabila dalam penelitian hasil belajar afektif siswa dibagi dalam empat kategori, maka siswa dengan skor :
Tabel 1 Kategori Penilaian Hasil Belajar Afektif Skor peserta didik Kategori nilai
16,25 < x < 20 Amat baik
12,5 < x < 16,25 Baik
8,75 < x < 12,5 Kurang
5 < x < 8,75 Amat kurang
(Priatiningsih dalam Baroroh, 2005:36)
Tabel 2 Kategori Penilaian Hasil Belajar Psikomotorik Skor peserta didik Kategori nilai
16,25 < x < 20 Sangat terampil
12,5 < x < 16,25 Terampil
8,75 < x < 12,5 Kurang terampil
5 < x < 8,75 Tidak terampil
(Tim Peneliti Program Pascasarjana UNY, 2003–2004:21)
dengan x adalah nilai yang diperoleh siswa.
3. Data tentang ketertarikan dan tangapan siswa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
(Ali, 1984:184)
% = Persentase
n = Jumlah skor yang diperoleh
N = Jumlah skor maksimal
Rata-rata skor kelas dihitung dengan menjumlahkan skor semua peserta didik dibagi jumlah peserta didik.
Tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Quantum Teaching diambil melalui kuesioner, dengan menggunakan skala dengan rentang antara 5 sampai dengan 1, dengan 8 pertanyaan, maka skor maksimum adalah 40 dan skor minimum adalah 8. Jika dalam penilaian digunakan 4 kategori, maka:
Tabel 3. Kategori Hasil Kuesioner Siswa

No Rata-rata Kelas Kategori
1
2
3
4 Sama atau lebih besar dari 32
24 sampai 31
16 sampai 23
kurang dari 16 Sangat positif
Positif
Kurang
Sangat ku

Keterangan:
1. Skor batas bawah kategori sangat positif adalah 0,8 x 40 = 32
2. Skor batas bawah kategori positif adalah 0,6 x 40 = 24
3. Skor batas bawah kategori negatif adalah 0,4 x 40 = 16
4. Skor batas bawah kategori sangat negatif adalah kurang dari 16.
(Tim Peneliti Program Pascasarjana UNY, 2003–2004:21)

F. Indikator Keberhasilan
Indikator kinerja yang menjadi tolok ukur untuk mencapai keberhasilan dalam penelitian ini adalah:
1. Sekurang-kurangnya 85% dari keseluruhan siswa yang ada di kelas tersebut memperoleh nilai 65, atau mencapai ketuntasan belajar 65% untuk hasil belajar kognitif (Mulyasa, 2003:99).
2. Sekurang-kurangnya 85% dari keseluruhan siswa yang ada di kelas tersebut (Mulyasa, 2003:101) mencapai ketuntasan belajar afektif 60% (Priatiningsih dalam Baroroh, 2005:37), sedangkan ketuntasan belajar psikomotorik adalah 75% (Priatiningsih dalam Baroroh, 2005:37)

DAFTAR PUSTAKA
(maaf teman” daftar pustaka tidak lulus sensor)

5 pemikiran pada “contoh PTK

  1. tolong dong,,,krimkan (ara_yuki88@yahoo.com) contoh proposal dengan menggunakan pendekatan open ended pada SMP kelas VII, beserta lampirannya, apa-apa komponen uang diamati pada lembar observasi aktivitas siswa dan proses belajar mengajarnya…
    Thanks…

  2. tolong dong,,,krimkan (ara_yuki88@yahoo.com) contoh proposal PTK matermatika dengan menggunakan pendekatan open ended pada SMP kelas VII, beserta lampirannya, apa-apa komponenyuang diamati pada lembar observasi aktivitas siswa dan proses belajar mengajarnya…
    Thanks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s