Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berbasis Contextual Teaching And Learning (CTL) Dibanding Model Pembelajaran CTL terhadap Hasil Belajar Siswa

BAB I

PENDAHULUAN

Alasan Pemilihan Judul

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Dengan demikian siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Oleh sebab itu, pendidikan harus dapat mengembangkan potensi dasar siswa agar berani menghadapi berbagai problema tanpa rasa tertekan, mau, mampu dan senang meningkatkan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi.

Sejalan dengan uraian di atas, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yakni manusia yang bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, disiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, produktif, serta sehat jasmani dan rohani. Iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan budaya belajar di kalangan masyarakat, terus dikembangkan agar tumbuh sikap dan perilaku yang kreatif, inofatif dan keinginan untuk maju.

Guru mempunyai peranan yang penting dalam mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran matematika. Seorang guru bukan hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, namun guru harus mampu menciptakan kondisi dan situasi yang memungkinkan pembelajaran berlangsung secara aktif. Salah satunya dengan memperhatikan model pembelajaran yang digunakan.

Penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat dapat menimbulkan kebosanan, kurang dipahami, dan monoton sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar. Pembelajaran matematika yang biasanya menggunakan metode ekspositori memang sudah membuat siswa aktif, namun kurang dapat mengembangkan keterampilan sosial siswa yang kelak dapat berguna dalam kehidupan bermasyarakat.

Salah satu model pembelajaran yang menuntut keaktifan seluruh sense siswa adalah model pembelajaran kooperatif yaitu pambelajaran yang secara sengaja didesain untuk melatih siswa mendengarkan pendapat-pendapat orang lain dan merangkum pendapat tersebut dalam bentuk tulisan (Erman Suherman, 2003:259). Bahkan Muslimin Ibrahim (2000:12) mengatakan bahwa “model pembelajaran kooperatif selain membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, juga berguna untuk membantu siswa menumbuhkan keterampilan kerjasama, berfikir kritis, dan kemampuan membantu teman”.

Diskusi yang terjadi dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk memperkenalkan keterkaitan antara ide-ide yang dimiliki siswa dan mengorganisasikan pengetahuannya kembali. Melalui diskusi, keterkaitan skema siswa akan menjadi lebih kuat sehingga pengertian siswa tentang konsep yang mereka konstruksi sendiri menjadi kuat. Dalam pembelajaran kooperatif terjadi interaksi antar siswa, dari sini siswa yang lemah atau kurang pandai akan dibantu siswa yang lebih pandai, sehingga akan memperkaya pengetahuan siswa yang diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat.

Pembelajaran kooperatif juga memberi kesempatan pada siswa dengan kondisi latar belakang yang berbeda untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama dan belajar untuk menghargai satu sama lain. Hal-hal tersebut diperlukan siswa ketika siswa berada dalam masyarakat, dimana terdapat banyak perbedaan tetapi berusaha untuk hidup bersosialisasi dalam suatu lingkungan. Pembelajaran kooperatif juga mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa (Muslimin Ibrahim, 2000:9).

Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah STAD (Student Teams Achievement Division) yang merupakan sebuah pendekatan yang baik bagi guru baru untuk memulai menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam kelas (Pradyo Wijayanti, 2002:2). Pada pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, dimana masing-masing kelompok beranggotakan 4-5 siswa untuk bekerjasama dalam menyelesaikan tugas. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2004 adalah pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Leaning(CTL)). Model pembelajaran kontekstual dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat (Depdiknas,2003:1).

Pembelajaran kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang fleksibel, yang dapat diterapkan dari suatu permasalahan ke permasalahan lain, dari satu konteks ke konteks lain. Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui bahwa belajar hanya terjadi jika siswa memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berfikir yang dimilikinya (M. Asikin, 2002:15).

Dilihat dari komponen-komponen dalam CTL, tahap-tahap dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat mengarah dan mendukung terlaksananya ketujuh komponen CTL tersebut. STAD mengarahkan siswa belajar dengan cara mengkonstruksi berbagai pengetahuan yang diperoleh dari belajar sendiri dan sharing dengan teman sekelompoknya. Siswa dapat memperoleh pengetahuan dari bertanya, pemodelan dan berbagai sumber informasi yang lain. STAD ini juga sebagai salah satu cara membentuk masyarakat belajar.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: lebih efektif manakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis CTL dibandingkan model pembelajaran CTL pada materi pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel kelas *************?

Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis CTL lebih efektif daripada model pembelajaran CTL dalam pembelajaran matematika materi pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.

2. Manfaat Penelitian

a. Bagi Guru

Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran matematika yang paling tepat agar hasil belajar siswa lebih baik.

b. Bagi Siswa

Untuk melatih keterampilan kooperatif siswa yang dapat digunakan dalam kehidupan bermasyarakat kelak

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

Pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan. Dalam hal ini guru berperan sebagai komunikator, siswa sebagai komunikasikan dan materi yang dikomunikasikan berisi peran berupa ilmu pengetahuan.

Guru harus menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untuk mencipatakan suatu kondisi belajar yang dapat mengantarkan siswa ke tujuan pembelajaran. Selain itu, guru harus menciptakan suasana yang menyenangkan bagi semua siswa. Suasana yang tidak menyenangkan biasanya mendatangkan kegiatan belajar mengajar yang kurang harmonis. Siswa merasa gelisah, tidak nyaman, dan tidak memperhatikan pelajaran. Kondisi ini tentu menjadi kendala yang serius bagi tercapainya tujuan pembelajaran.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran adalah bagaimana pembelajaran tersebut dapat membekali anak untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata sehingga belajar akan menjadi bermakna. Belajar akan lebih bermakna jika anak memahami apa yang dipelajarinya bukan mengetahuinya. Dengan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang dipelajarinya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat yang disebut dengan pendekatan kontekstual, diharapkan hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa (Tim Depdiknas, 2003:1).

1. Pengertian Belajar

Definisi belajar ada beraneka ragam. Perbedaan ini dikarenakan latar belakang pandangan maupun teori yang dipegang. Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.

Menurut W.S. Winkel (dalam Max Darsono, 2000:4): ” belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap”.

2. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Nana Sudjana, 2001:22). Dalam pembelajaran, hasil belajar ini sangat dibutuhkan sebagai petunjuk untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar yang sudah dilaksanakan.

Hasil belajar dapat diketahui melalui evaluasi untuk mengukur dan menilai apakah siswa sudah menguasai ilmu yang dipelajari sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Howard Kingsley (dalam Nana Sudjana, 2001:22) membagi tiga macam hasil belajar yaitu:

a. keterampilan dan kebiasaan,

b. pengetahuan dan pengertian, dan

c. sikap dan cita-cita.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar, yang dikelompokkan menjadi dua yaitu sebagai berikut.

a. Faktor Internal

Faktor internal berasal dari dalam individu yang belajar yang meliputi faktor fisik atau jasmani dan faktor mental psikologis. Faktor fisik misalnya keadaan badan lemah, sakit atau kurang fit dan sebagainya, sedang faktor mental psikologis meliputi kecerdasan atau intelegensi, minat, konsentrasi, ingatan, dorongan, rasa ingin tahu, dan sebagainya.

b. Faktor Eksternal

Faktor ini berasal dari luar individu yang belajar, meliputi faktor alam fisik, lingkungan, sarana fisik dan non fisik, pengajar serta strategi pembelajaran yang dipilih pengajar dalam menunjang proses belajar mengajar.

3. Pembelajaran

Pembelajaran secara khusus dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Behavioristik

Pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus).

 

b. Kognitif Pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan pada siswa untuk berpikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari.

c. Gestalt

Pembelajaran adalah usaha guru untuk memberikan materi pelajaran sedemikian rupa sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna).

d. Humanistik

Pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.

 

(Max Darsono. dkk, 2000:24)

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi antara guru dengan siswa yang ditujukan untuk melakukan perubahan sikap dan pola pikir siswa ke arah yang lebih baik untuk mencapai hasil belajar yang optimal.

4. Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar yang menempatkan siswa belajar dalam kelompok yang beranggotakan 4-5 siswa dengan tingkat kemampuan atau jenis kelamin atau latar belakang yang berbeda (Pradnyo Wijayanti, 2002:1). Pembelajaran ini menekankan kerjasama dalam kelompok untuk mencapai tujuan yang sama. Hal ini didukung pula oleh pendapat Kauchak dan Eggen (dalam Nurhayati Abba, 2000:11) yang mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai bagian dari strategi mengajar yang digunakan siswa untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari sesuatu. Belajar kooperatif juga dinamakan “pembelajaran teman sebaya”.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah atau menyelesaikan suatu tugas untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Sedangkan jika siswa duduk bersama dalam kelompok dan mempersilahkan salah seorang diantaranya untuk mengerjakan seluruh pekerjaan kelompok maka hal ini bukan merupakan pembelajaran kelompok.

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif (M. Asikin, 2004:7), adalah sebagai berikut.

a. Untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif.

b. Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

c. Jika dalam kelas, terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda maka diupayakan agar dalam tiap kelompokpun terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula.

 

d. Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.

Model pembelajaran kooperatif mempunyai tiga tujuan penting (Muslimin Ibrahim. dkk, 2000:7), yaitu sebagai berikut.

a. Hasil belajar akademik

Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit.

b. Penerimaan terhadap perbedaan individu

Efek penting yang kedua ialah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan.

c. Pengembangan keterampilan sosial

Model kooperatif bertujuan untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.

Unsur-unsur yang diperlukan agar model pembelajaran kooperatif atau kerja kelompok dapat mencapai hasil yang baik adalah sebagai berikut.

a. Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.

b. Siswa bertanggungjawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri.

 

c. Siswa harus melihat bahwa semua anggota kelompoknya mempunyai tujuan yang sama.

d. Siswa harus membagi tugas dan tanggungjawab yang sama diantara anggota kelompoknya.

e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau akan diberikan hadiah/ penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.

f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama.

g. Siswa akan diminta mempertanggungjawabankan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

(Muslimin Ibrahim, dkk, 2000:6)

Tanggung jawab guru selama pembelajaran kooperatif berlangsung, diantaranya sebagai berikut.

a. Memonitor perilaku siswa.

b. Memberi bantuan jika diperlukan.

c. Menjawab pertanyaan-pertanyaan hanya jika pertanyaan itu merupakan pertanyaan tim.

d. Menginterupsi proses untuk menguatkan keterampilan-keterampilan kooperatif atau untuk memberikan pengajaran langsung kepada semua siswa.

e. Memberikan ringkasan pelajaran.

 

f. Mengevaluasi proses kelompok dengan mendiskusikan tindakan-tindakan anggota tim sehari-hari.

g. Membantu para siswa belajar bertanggung jawab dalam pembelajaran secara individu.

(Siti Maesuri, 2002:3)

Manfaat model pembelajaran kooperatif bagi siswa menurut Linda Lundgren (dalam Muslimin Ibrahim, 2000:18), antara lain:

a. lebih banyak meluangkan waktu pada tugas,

b. rasa percaya diri menjadi lebih tinggi,

c. memperbaiki sikap terhadap Matematika,

d. penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar,

e. konflik antar pribadi berkurang,

f. sikap apatis berkurang,

g. pemahaman lebih mendalam,

h. motivasi lebih besar,

 

i. hasil belajar lebih baik, dll.

Sebelum model pembelajaran kooperatif dilaksanakan, sebaiknya siswa terlebih dahulu diperkenalkan keterampilan kooperatif yang akan digunakan dalam belajar kelompok. Dorongan teman untuk mencapai prestasi akademik yang baik adalah salah satu faktor penting dari model pembelajaran kooperatif. Para siswa termotivasi belajar secara baik, siap dengan pekerjaannya dan menjadi penuh perhatian selama berlangsungnya proses belajar. Menurut Linda L (dalam P.Wijayanti, 2002:5), keterampilan kooperatif dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu.

a. Keterampilan kooperatif tingkat awal

Keterampilan kooperatif tingkat awal antara lain, menggunakan kesepakatan, maksudnya adalah menyamakan pendapat yang berguna untuk meningkatkan kerja dalam kelompok. Menghagai kontibusi yang berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan orang lain karena bisa jadi kritik yang diberikan ditunjukan terhadap ide, bukan individu. Mengambil giliran, yaitu setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas dan tanggung jawab tertentu dalam kelompok. Setiap anggota berada dalam kelompok selama kegiatan berlangsung. Berada dalam tugas, mendorong partisipasi semua naggota kelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok. Mengundang orang lain, menyelesaikan tugas pada waktunya, dan menghormai perbedaan individu.

b. Keterampilan tingkat menengah

Keterampilan tingkat menengah antara lain, menunjukan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidak setujuan dengan cara dapat diterima,mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat rangkuman, manafsirkan, mengatur dan mengorganisir, serta mengurangi ketegangan.

 

c. Keterampilan tingkat mahir Keterampilan tingkat mahir antara lain, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.

 

5. STAD (Student Teams Achievement Division)

Ada beberapa tipe model pembelajaran kooperatif, salah satunya adalah STAD. STAD merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pendekatan yang baik untuk guru yang baru memulai menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam kelas (Pradnyo Wijayanti, 2002:2).

Pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing beranggotakan 4-5 siswa, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, memiliki kemampuan yang beragam, kalau dimungkinkan berasal dari berbagai suku. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran atau melakukan diskusi.

Menurut Slavin (1995:71): “STAD terdiri dari lima komponen utama, yaitu penyajian materi, tim/kelompok, kuis, skor perkembangan individu, dan penghargaan kelompok”. Selanjutnya Slavin menjelaskan bahwa STAD dibagi menjadi beberapa kegiatan pengajaran, yaitu sebagai berikut.

a. Pengajaran

Tujuan pengajaran ini adalah guru menyajikan materi pelajaran sesuai dengan yang direncanakan. Setiap awal dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD selalu dimulai dengan penyajian kelas. Penyajian ini mencakup pembukaan, pengembangan, dan latihan terbimbing dari keseluruhan pelajaran.

b. Belajar kelompok

Tugas anggota kelompok adalah menguasai materi yang diberikan guru dan membantu teman satu kelompok untuk menguasai materi tersebut. Siswa diberi lembar kegiatan yang dapat digunakan untuk melatih keterampilan yang sedang diajarkan untuk mengevaluasi diri mereka dan teman satu kelompok. Guru mengamati kegiatan pembelajaran secara seksama, memperjelas perintah, mereview konsep, atau menjawab pertanyaan.

c. Kuis

Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Tujuannya untuk menunjukkan apa saja yang telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai kelompok.

d. Penghargaan kelompok

Langkah awal adalah menghitung nilai kelompok dan nilai perkembangan individu. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan pada rata-rata nilai perkembangan individu.

Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut.

a. Menyampaikan tujuan pembelajaran.

b. Memberikan informasi/menyajikan materi yang akan diberikan

c. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4-5 siswa.

d. Memberikan nama kelompok untuk masing-masing kelompok.

e. Menyajikan kartu soal dan memberikan lembar kerja siswa yang dikerjakan dengan berdiskusi dalam kelompok masing-masing.

f. Mengingatkan siswa tetap bersama kelompoknya masing-masing sampai selesai tugasnya dan bekerja dengan menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif yang dikembangkan

g. Memberikan bimbingan pada kelompok.

h. Pemberian kuis yang dikerjakan secara individu.

i. Jawaban dari kuis dikoreksi secara bersama-sama.

j. Pemberian tugas kelompok.

 

6. Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Model pembelajaran kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang fleksibel, yang dapat diterapkan dari suatu permasalahan ke permasalahan lain, dari satu konteks ke konteks lainnya.

Model pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui bahwa belajar hanya terjadi jika siswa memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimilikinya. Pemaduan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa di dalam model pembelajaran kontekstual akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang kuat dan mendalam sehingga siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara untuk menyelesaikannya.

a. Kunci Dasar Model Pembelajaran Kontekstual

The Nortwest regional Education Laboratory USA mengidentifikasi adanya enam kunci dasar dari model pembelajaran kontekstual, yaitu.

1) Pembelajaran Bermakna

Dalam pembelajaran bermakna, pemahaman, relevansi, dan penilaian pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa dalam mempelajari isi materi pelajaran. Pembelajaran dirasakan sangat terkait dengan kehidupan nyata atau siswa mengerti manfaat isi pembelajaran, jika mereka merasakan berkepentingan untuk belajar demi kehidupan di masa mendatang.

2) Penerapan Pengetahuan

Jika siswa telah memahami apa yang dipelajari, maka siswa dapat menerapkannya dalam tatanan kehidupan.

3) Berpikir Tingkat Tinggi

Siswa diminta untuk berpikir kritis dalam pengumpulan data, pemahaman suatu isi dan pemecahan suatu masalah.

4) Kurikulum yang Dikembangkan Berdasarkan kepada Standar

 

Isi pembelajaran harus dikaitkan dengan standar lokal, nasional, dan perkembangan IPTEK dan dunia kerja.

5) Responsif terhadap Budaya

Guru harus memahami dan menghormati nilai, kepercayaan, dan kebiasaan siswa, sesama rekan guru dan masyarakat tempat ia mendidik. Setidaknya ada empat perspektif yang harus diperhatikan: individu siswa, kelompok siswa, tatanan sekolah, dan tatanan masyarakat.

6) Penilaian Autentik

Beberapa strategi penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa diantaranya: penilaian atas proyek dan kegiatan siswa, pengetahuan porofolio, rubrics, ceklis, dan panduan pengamatan disamping memberikan kesempatan kepada siswa untuk ikut aktif berperan serta dalam menilai pembelajaran mereka sendiri.

 

(M. Asikin, 2002:16)

b. Strategi Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Center for Occupational Research and Development (CORD) mengemukakan bahwa terdapat 5 strategi bagi guru dalam rangka penerapan model pembelajaran kontekstual, yang disingkat REACT, yaitu sebagai berikut.

1) Relating, belajar dikaitakan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.

 

2) Experiencing, belajar ditekankan kepada penggalian (eksplorasi), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention).

3) Applying, belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan didalam konteks pemanfaatannya.

4) Cooperating, belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian bersama, dan sebagainya.

5) Tranferring, belajar melalui pemanfaatan pengetahuan didalam situasi atau konteks baru.

(M. Asikin, 2002:19)

c. Komponen CTL

Tujuh komponen pelaksanaan model pembelajaran CTL adalah sebagai berikut.

1) Konstruktivisme (constructivism)

 

Konstruktivisme (constructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

2) Menemukan (Inquiry)

 

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.

3) Bertanya (Questioning)

 

Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari ‘bertanya’. Questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.

4) Masyarakat Belajar (Learning Community)

 

Konsep ini menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu.

5) Pemodelan (Modelling)

 

Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Dalam pendekatan CTL guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.

6) Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

7) Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesment)

 

Assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Karena assement menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus pada saat melakukan proses pembelajaran.

(Tim Depdiknas, 2003:10-19)

d. Asesmen Autentik

Asesmen yang dilakukan menggunakan beragam sumber pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Asesmen autentik biasanya mengecek pengetahuan dan keterampilan siswa pada saat itu (aktual), keterampilan, dan disposisi yang diharapkan dari kegiatan pembelajaran. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melengkapi informasi mengenai kemampuan, disposisi, kesenangan, dan ketertarikan siswa dalam belajar matematika.

Beberapa teknik asesmen autentik yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.

1) Observasi

Pengamatan langsung mengenai tingkah laku siswa dalam kegiatan pembelajaran sangat penting dalam melengkapi data asesmen. Observasi melalui perencanaan yang matang dapat membantu meningkatkan keterampilan mengobservasi. Dari kegiatan observasi semacam ini dapat diperoleh gambaran mengenai sikap dan disposisi terhadap matematika. Catatan hasil observasi berguna bukan saja sebagai anecdotal records untuk keperluan asesmen dan perencanaan pembelajaran, namun diperlukan dalam menentukan tindakan yang harus dilakukan segera ketika guru menyajikan konsep baru.

2) Asesmen diri

Assesmen ini bisa dimulai dengan memeriksa apakah pekerjaan benar atau salah, menganalisis strategi yang dilakukan siswa lain, dan melihat cara mana yang paling sesuai dengan pemikirannya.

3) Tes

Melalui tes dapat diperoleh informasi dan petunjuk mengenai pembelajaran yang telah dan yang harus dilakukan selanjutnya

daripada sekedar menentukan skor. Sayangnya tes kurang memberi kesempatan pada siswa untuk berpikir mengapa suatu prosedur diterapkan dan bagaimana memecahkan masalah, jika hasil tes lebih dipentingkan dari pada bagaimana mengerjakannya.

 

e. Pelaksanaan Model Pembelajaran CTL adalah sebagai berikut.

1) Menyampaikan tujuan pembelajaran/indikator.

2) Menyajikan kartu soal dan lembar kerja siswa.

3) Siswa diminta berdiskusi dengan teman sebangku untuk menyelesaiakan lembar kerja siswa tersebut.

4) Memberikan bimbingan pada siswa.

5) Meminta salah satu siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.

6) Siswa lain diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan dan mengajukan pertanyaan, kemudian dibahas bersama-sama.

7) Siswa dengan bantuan guru menarik kesimpulan.

8) Memberikan umpan balik.

 

7. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD berbasis CTL

Pada model pembelajaran kooperatif Tipe STAD berbasis CTL, siswa memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimilikinya, yang bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan yang secara yang fleksibel, yang dapat diterapkan dari suatu permasalahan ke permasalahan lain, dari satu konteks ke konteks lainnya.

 

STAD dilaksanakan dengan menyertakan tujuh komponen CTL yang meliputi: konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian autentik (authentic assesment) seperti yang telah diungkapkan di depan.

Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis CTL akan dilaksanakan dengan urutan sebagai berikut.

a. Menyampaikan tujuan pembelajaran/indikator.

b. Memberikan informasi/menyampaikan materi yang akan diberikan.

c. Membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang anggotanya terdiri dari 4–5 siswa.

d. Memberikan nama kelompok untuk masing-masing kelompok.

e. Menyajikan kartu soal dan membagikan lembar kerja siswa kepada masing-masing anggota kelompok untuk didiskusikan dan dikerjakan secara berkelompok.

f. Mengingatkan siswa tetap bersama kelompoknya masing-masing sampai selesai tugasnya dan bekerja dengan menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif yang dikembangkan.

g. Memberikan bimbingan kepada kelompok.

h. Meminta salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya.

i. Memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk berpendapat dan mengajukan pertanyaan, kemudian membahasnya bersama-sama.

 

j. Pemberian kuis yang dikerjakan secara individu.

k. Jawaban dari kuis dikoreksi bersama-sama.

l. Siswa dengan bantuan guru menarik kesimpulan.

m. Guru memberikan umpan balik.

n. Memberikan tugas kelompok sebagai tugas rumah yang dikerjakan secara berkelompok.

o. Memberikan PR.

STAD berbasis CTL dalam penelitian ini merupakan pembelajaran kooperatif dengan mengangkat masalah-masalah keseharian siswa sehingga siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara untuk menyelesaikannya.

Kerangka Berpikir

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pencapaian hasil belajar agar maksimal yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar siswa tersebut. Adapun faktor dari luar diantaranya: kurikulum, program, sarana, fasilitas dan guru atau tenaga pengajar. Ketepatan memilih model pembelajaran sangatlah penting dalam proses belajar mengajar untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal dan menyeluruh.

Model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar hendaknya ditujukan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia yang bermanfaat bagi kehidupan dimasa mendatang dan dapat mencetak siswa yang berkualitas dengan memiliki keterampilan dan daya kreativitas yang tinggi sehingga akan dapat memenuhi tuntutan zaman yang akan datang serta mampu memecahkan dan mengatasi problema kehidupan di dalam dunia nyata.

Melalui model pembelajaran kooperatif Tipe STAD Berbasis Contextual Teaching And Learning (CTL) siswa akan mengetahui makna belajar dan dapat menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.

Pembelajaran matematika yang biasanya menggunakan metode ekspositori memang sudah membuat siswa aktif, namun hasilnya kurang optimal. Sehingga siswa kurang termotivasi untuk memunculkan ide-ide kreatifnya. Hal itu belum cukup untuk membekali siswa dalam menghadapi dunia nyata setelah dia lulus dari sekolah. Penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe STAD Berbasis Contextual Teaching And Learning (CTL) diharapkan hasil belajar siswa menjadi lebih baik.

D. Hipotesis Penelitian

Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis Contextual Teaching And Learning (CTL) lebih baik dibandingkan model pembelajaran CTL terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel kelas *************

 

20 pemikiran pada “Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berbasis Contextual Teaching And Learning (CTL) Dibanding Model Pembelajaran CTL terhadap Hasil Belajar Siswa

  1. cukup bagus. yang aku cari model-medol pembelajaran kooperatifi di SD yg lebih banyak lagi,bukan hanya teorinya, tapi tata cara pelaksanaannya …trims masukannya .

  2. kak,,saya lg ad tgs dr dosn membt proposal PTK ….n sya mengangkat judul penerapan model kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar,,tp bhan untk variabel Y na masih kurang.mohon bantuan na ya kak……

  3. kak,,saya lg ad tgs dr dosn membt proposal PTK ….n sya mengangkat judul penerapan model kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belaja IPS SD,,tp bhan untk variabel Y na masih kurang.mohon bantuan na ya kak……

    1. g’ jd lh k’ ! tgs yg itu ud selesai .
      ada tgs baru lagi k” .,,membuat RPP IPS SD kls 3 berdasarkan model pembelajaran CTL…
      ada contohnya g” kak ??????

  4. mas Alhamdulillah posting sampean bisa bantu buat referensi skripsiku mas,,mas punya referensi rujukan2 berupa ebook gak?hehehe..

    mas tolong komen tentang judul ni,,mau q seminarkan mas,,
    “PERBEDAAN HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN SETTING PERIPHERAL SISTEM OPERASI AKIBAT PENGARUH PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD BERBASIS CTL DENGAN METODE CTL PADA SISWA KELAS X SEMESTER II
    DI MADRASAH ALIYAH NEGERI …..”

    1. alhamdulillah kl bs bermanfaat ni postingan.

      wah kayak dosen aja nih disuruh komentar xixixix
      yah kl itu judul dah di ACC dosen pastinya dah bener donk..
      semoga sukses ya seminarnya….

  5. assalamualaikum kak saya sedang mengadakan PTK di SD menggunakan model kooperatif tipe active knowledge sharing…
    bisa minta tolong kirim kekurangan dan kelebihannya gak??
    terimakasih . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s