KAJIAN TEORI

 Kajian teori yang mendasari dan relevan dengan penelitian ini mengenai pengembangan model pembelajaran (konsep dasar pembelajaran, macam model pembelajaran, pengembangan model pembelajaran), dan kemampuan reflektif (berfikir dan sikap reflektif). Selain itu juga dikaji mengenai strategi kebijakan dan kompetensi guru SD), dan konsep dasar PTK. Namun pada makalah ini, kajian teori ditekankan pada pengembangan model pembelajaran dan kemampuan reflektif.

Pengembangan Model Pembelajaran

Menurut Oliva (1992:413), “models of teaching are strategies based on theories (and often the research) of educators, psychologist, philosophers, and others who question how individual learn”. Hal ini berarti setiap model mengajar atau pembelajaran harus mengandung suatu rasional yang didasarkan pada teori, berisi serangkaian langkah strategi yang dilakukan guru maupun siswa, didukung dengan sistem penunjang atau fasilitas pembelajaran, dan metode untuk mengevaluasi kemajuan belajar siswa.

Terdapat beberapa model mengajar/pembelajaran antara lain model pemrosesan informasi, kelompok personal, kelompok sosial, dan kelompok perilaku (Joice & Weil, 1986); model pembelajaran kompetensi, pembelajaran kontekstual, pembelajaran mencari dan bermakna, pembelajaran berbasis pengalaman, pembelajaran terpadu, dan pembelajaran kooperatif. (Sukmadinata, 2004); model pendidikan guru berbasis akademik, performansi, kompetensi, lapangan, pelatihan, pengajaran mikro, internship, jarak jauh, dll.

Sebelum membahas proses pengembangan suatu model pembelajaran, perlu dibahas mengenai pengertian dan prinsip pembelajaran, konsep pembelajaran abad 21 yang didasarkan pada empat pilar yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together, belajar sepanjang hayat pada pelajar orang dewasa, pembelajaran bagaimana caranya belajar (learning how to learn), dan pembelajaran berfikir (teaching for thinking).

Proses sistematik dalam mengembangkan pembelajaran pada umumnya disajikan dalam bentuk model pembelajaran. Dalam pengembangan model pembelajaran, Sukmadinata (2004) mengemukakan mengenai dasar pemilihan pembelajaran (pendekatan, model ataupun prosedur dan metode pembelajaran) yaitu: tujuan pembelajaran, karakteristik mata pelajaran, kemampuan siswa dan guru.

 

Pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif mahasiswa S1-PGSD didasarkan pada pembelajaran sebagai sistem, yang mempertimbangkan komponena raw input (mahasiswa S1- PGSD sebagai pelajar orang dewasa dan guru SD yang memiliki pengalaman mengajar), enviiromental input (tuntutan lingkungan masyarakat dan perkembangan ipteks terhadap guru dan mahasiswa S1-PGSD), instrumental input (kebijakan pendidikan guru), kemudian merancang/desain dan implementasi proses pembelajaran (process), sehingga dihasilakan lulusan yang memiliki kemampuan reflektif (output).

Kemampuan Reflektif

Kemampuan reflektif sebagai hasil atau output dari pembelajaran yang dikembangkan pada penelitian ini. didasarkan pada konsep reflektif dari John Dewey berkenaan dengan kemampuan berfikir reflektif dan bersikap reflektif.

Kemampuan berfikir reflektif terdiri atas lima komponen yaitu: (1) recognize or felt difficulty/problem, merasakan dan mengidentifikasikan masalah; (2) location and definition of the problem, membatasi dan merumuskan masalah; (3) suggestion of posible solution, mengajukan beberapa kemungkinan alternatif solusi pemecahan masalah; (4) rational elaboration of an idea, mengembangkan ide untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan; (5) test and formation of conclusion, melakukan tes untuk menguji solusi pemecahan masalah dan menggunakannya sebagai bahan pertimbangan membuat kesimpulan.

Sikap reflektif yang tidak dapat dilepaskan dari kemampuan berfikir reflektif, dikembangkan berdasarkan konsep awal dari Dewey yang telah diperluas dan diaplikasikan oleh beberapa praktisi di bidang pendidikan guru. Dalam artikel jurnal Teaching and Teacher Education (vol.12.no.1, Januari 1996), Helen L. Harrington cs mengemukakan dan mengembangkan tiga komponen sikap reflektif yaitu: (1) openmindedness atau keterbukaan, sebagai refleksi mengenai apa yang diketahui, dalam pembelajaran ada tiga pola dasar yaitu pola berfokus pada guru, siswa, dan inklusif; (2) responsibility atau tanggung jawab, sebagai sikap moral dan komitmen profesional berkenaan dengan dampak pembelajaran pada siswa saja, siswa dan guru, serta siswa, guru dan orang lainnya; (3) wholeheartedness atau kesungguhan dalam bertindak dan melaksanakan tugas, dengan cara pembelajaran langsung guru, proses interaktif, dan proses interaktif yang kompleks.

 

Model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif dikembangkan berdasarkan pendekatan filosofis konstruktivisme dan psikologi kognitif. Konstruktivisme dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang didasarkan pada pengalaman (experience is the only basis for knowledge and wisdom), yang kemudian direorganisasi dan direkonstruksikan. Materi pelajaran harus memungkinkan siswa belajar bagaimana caranya belajar (learning how to learn) dalam bentuk studi kasus atau masalah yang perlu dan bermanfaat untuk dicari jalan ke luarnya (problem solving learning) melalui proses inkuiri diskoveri. Proses pembelajaran berpusat pada siswa dan keaktifan siswa, guru berperan sebagai fasilitator/mediator dan motivator yang menstimuli siswa untuk belajar sesuatu yang bermakna melalui pemahaman (insight). Penilaian dilakukan selama dan akhir proses pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana siswa. membangun suatu pengetahuan atau konsep.

Dalam penelitian ini, model pembelajaran reflektif dikembangkan berdasarkan konsep Zeichner dan Liston (1996) berkenaan dengan konsep “critical reflection” yang terdiri dari tiga tahap/tingkat reflektif yaitu (1) technical level, refleksi dilakukan pada efisiensi aplikasi pengetahuan dalam bentuk cara atau teknik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan; (2) contextual level, refleksi dilakukan untuk menemukan keterkaitan antara situasi problematik dengan tindakan yang dilakukan melalui aplikasi teori sesuai dengan konteksnya; (3) critical level, refleksi dilakukan berdasarkan pertimbangan kritis, dan nilai-nilai moral/etis.

Selain kedua kajian teori utamaa tersebut, disajikan pula secara singkat tentang strategi kebijakan pendidikan guru SD didasarkan pada fakta bahwa kondisi objektif jumlah dan sebaran guru SD di Indonesia sangat kompleks dengan latar belakang pendidikan dan sosial budaya yang beragam. PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Undang-undang no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, mensyaratkan kualifikasi pendidikan minimal guru SD ditetapkan sekurangnya sarjana (S1) atau D4, dan telah mendapat sertifikat pendidik sebagai guru SD melalui pendidikan profesi. Hal ini membawa implikasi besar dalam pengadaan guru SD. Ditjen Dikti mengembangkan minimal dua jenis program S1-PGSD yaitu pendidikan pra-jabatan guru terintegrasi, dan program sertifikasi bagi guru SD yang sudah berkualifikasi S1 agar dapat menguasai kompetensi profesional guru kelas SD melalui uji kompetensi

 

Kompetensi guru seperti yang dikemukan pada PP No.19 tahun 2005 meliputi empat kompetensi yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Selanjutnya secara lebih spesifik, standar kompetensi guru kelas (SKGK) SD/MI lulusan S1 PGSD ( 2006) terdiri atas empat rumpun kompetensi yaitu:

1. Kemampuan memahami peserta didik secara mendalam

Meliputi pemahaman secara mendalam tentang karakteristik intelektual, sosial, emosional, dan fisik, serta latar belakang peserta didik sebagai landasan bagi guru atau calon guru agar mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.

2. Kemampuan menguasai bidang studi

Meliputi penguasaan substansi dan metodologi bidang ilmu (disciplinary content knowledge) yang bersangkutan, serta kemampuan memilih dan mengemas bidang ilmu tersebut menjadi bahan ajar sesuai dengan konteks kurikulum dan kebutuhan pesera didi (pedagogical content knowledge).

3. Kemampuan menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik

Meliputi kemampuan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengases (menilai) proses dan hasil pembelajaran, serta kemampuan menindaklanjuti hasil asesmen untuk perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan.

4. Mengembangkan kemampuan profesional secara berkelanjutan

Menekankan kemampuan guru dalam memanfaatkan setiap peluang untuk belajar meningkatkan profesionalitas sehingga pembelajaran yang dikelolanya selalu mengedepankan kemaslahatan peserta didik.

Standar kompetensi guru ini diperlukan sebagai landasan dan pedoman uji kompetensi. Berkaitan dengan penelitian ini, maka kemampuan reflektif merupakan salah satu bentuk kompetensi yang perlu dikuasai oleh guru SD dalam menjalankan tugas secara profesional menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang demikan pesat di era globalisasi abad 21. Dalam Standar Kompetensi Guru Kelas SD/MI lulusan S1-PGSD (Depdiknas, 2005), kemampuan reflektif termasuk dalam rumpun kompetensi pedagogik (merancang, melaksanakan dan menilai proses dan hasil pembelajaran), kompetensi kepribadian (mengkaji strategi berfikir reflektif dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi), kompetensi profesional (mampu menilai dan memperbaiki pembel-ajaran melalui penelitian tindakan kelas). Juga secara implisit termasuk

 

kompetensi sosial sebagai dampak pengiring melakukan refleksi dengan bantuan teman secara kolaboratif atas pembelajaran yang dilaksanakannya.

Dengan adanya unsur kemampuan reflektif pada keempat rumpun kompetensi guru kelas SD/MI lulusan S1-PGSD, maka dapat disimpulkan kemampuan reflektif merupakan salah satu kemampuan esensial dalam pembinaan kompetensi dan profesional guru. Dengan meningkatnya kemampuan reflektif, mahasiswa S1 sebagai guru SD dapat mengembangkan diri pribadi dan karir profesionalnya. Hal ini dikarenakan pada hakekatnya mengajar merupakan praktek reflektif (Ginsburg and Clift, 1990:454-455) ataupun refleksi belajar (Dunkin & Biddle, 1974: 21-24), dan perlunya calon guru terlebih dulu belajar dari pengalaman. (LaBoskey,1993). Kemampuan reflektif memungkinkan guru SD merefleksikan pengalaman mengajarnya dan mengambil hikmah atau belajar dari pengalaman, sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu dalam melaksanakan tugas sebagai guru secara profesional.

Demikian pula kajian teori berkenaan dengan matakuliah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) membahas mengenai konsep dasar PTK dan proposal PTK. Berdasarkan beberapa definisi PTK (McNiff dalam Sukidin, 2002:14) dan Mills (2000:6) disimpulkan penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian yang bersifat reflektif, dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan yang dilakukannya itu, serta untuk memperbaiki atau meningkatkan kondisi praktek pembelajaran di kelasnya.

Adapun prinsip PTK antara lain: PTK tidak berdampak mengganggu komitmen guru sebagai pengajar, pelaksanaan PTK tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga dapat mengganggu proses pembelajaran, metodologi yang digunakan harus cukup reliabel sehingga dapat dipertanggungjawabkan, masalah PTK merupakan hal yang cukup merisaukan guru untuk diatasi melalui tindakan perbaikan sebagai bentuk tanggung jawab profesional, dan dalam pelaksanaan guru mengikuti prosedur etika penelitian.

Salah satu model PTK yang dikembangkan di Indonesia adalah modifikasi model sistem spiral refleksi diri dari Kemmis dan Taggart yang terdiri dari:

1. Rencana (plan): analisis masalah dan strategi perencanaan

2. Kegiatan (action): implementasi strategi yang direncanakan

3. Pengamatan (observation): deskripsi kegiatan dengan menggunakan teknik tertentu

4. Refleksi (reflection): evaluasi proses dan hasil sebagai masukan bagi siklus selanjutnya.

 

Selanjutnya, proposal PTK sebagai usulan penelitian pada dasarnya memiliki unsur atau komponen sebagai berikut: judul penelitian,ang ilmu, pendahuluan, perumusan masalah, tinjauan pustaka, tujuan penelitian, kontribusi penelitian, metode penelitian, jadwal pelaksanaan, sertta lampiran yang diperlukan dan relevan.

Dengan deskripsi kajian teori ini, maka dapat disimpulkan bahwa kajian teori utama mengenai pengembangan model pembelajaran dan kemampuan reflektif menjadi dasar dan acuan dalam mengembangkan model pembelajaran dan mengembangkan instrumen kemampuan reflektif (berfikir dan sikap reflektif). Selanjutnya kajian teori dan data mengenai strategi kebijakan pendidikan guru (SD) dan penelitian tindakan kelas melatarbelakangi secara kontekstual di mana model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif tersebut dikembangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s