Kenapa Slackware?

Dalam memilih distro linux, kita mungkin bingung karena saking banyaknya pilihan distro. Apalagi kalau baru mulai mengenal linux.. Wah.. mau install linux yang mana ya??? Sebetulnya setiap distro linux menawarkan keunikannya sendiri-sendiri. Misalnya Ubuntu menawarkan ease-of-use nya, Fedora menawarkan kecantikannya, openSUSE menawarkan kompatibilitasnya terhadap Windows dan Slackware menawarkan kesimpelan, keringanan dan kestabilan distronya. Namun pada umumnya, sekarang distro linux sudah sangat mudah digunakan karena sepertinya para developer linux sudah mulai menganggap linux juga bisa difungsikan untuk komputer desktop.
Nah, dalam perjuangan saya memilih distro dari mencoba-coba Ubuntu, Fedora, OpenSUSE, Mandriva dan Slackware, akhirnya saya stop di Slackware dan saat ini saya menggunakan Slackware 14.0. Mengapa saya fix dan merasa nyaman menggunakan Slackware?Nha ini dia jawabannya :
  1. Secara default, Slackware menyediakan tools-tools untuk programming
    Bagi Anda-Anda yang suka programming(aliran opensource :D), cobalah distro yang satu ini. Pertama kali install Slackware sudah tersedia tools antara lain : KDevelop(untuk C/C++, KDE(Qt3 dan Qt4), Ruby dan HTML), Java Runtime Environtment, Quanta Plus(HTML, PHP, CSS, JavaScript dll lengkap dengan intellisensenya), Cervisia(CVS) dan KDiff(untuk meng-compare source code). Bagi yang suka Java, Java Development Kit 6 update 11 sudah tersedia di paket extra di CD 4 Slackware.
  2. Simpel
    Slackware itu simple. Maksudnya konfigurasi dari aplikasi-aplikasi yang ada masih original dari yang membuat project. Juga tidak ada wallpaper tambahan dan tambahan-tambahan lain yang tidak perlu. Sistem dari Slackware juga dianggap paling mirip dengan UNIX. Namun seringkali kesimpelan-kesimpelan tersebut membuat distro ini kurang nyaman dipakai oleh pemula karena kurangnya fasilitas berbasis GUI.
  3. Slackware support MP3 by default
    Distro-distro besar selain Slackware seperti Ubuntu, openSUSE dan Fedora tidak bisa memainkan file MP3 secara default karena memang tidak menyertakan codecnya(MP3 dianggap format terlarang, dalam artian dianggap memicu pembajakan). Jadi kalo mau mendengarkan lagu kesayangan harus download codecnya di situs repositori.. wah repot bagi saya. hehe…
  4. Slackware itu stabil
    Patrick Volkerding si pembuat Slackware berusaha untuk merilis distronya sestabil mungkin. Mulai dari paket-paket defaultnya yang disertakan adalah 99,9% merupakan paket stabil. Tapi hal ini agak sedikit mengorbankan ke-up to date-an paket-paket yang ada. Hal ini semata-mata demi sebuah kestabilan.
    Slackware juga tahan nyala berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Tidak seperti distro lain yang pernah saya coba. kadang-kadang sewaktu mengkopi file tiba-tiba hang atau tanpa sebab hang sendiri atau waktu mencoba-coba screensaver juga pernah hang. Slackware bebas dari itu semua.
  5. Belajar Salckware berarti belajar linux
    Pernah saya lihat di internet ada yang mengungkapkan seperti ini : “If you want to learn Red Hat, then start learning Red Hat, but if you want to learn Linux, start learning Slackware”. Ya, menurut saya ungkapan itu benar adanya. Karena menurut pengalaman saya, dulu ketika saya masih menggunakan distro selain Slackware saya tidak tahu dalamnya linux itu seperti apa karena sudah saking nyamannya menggunakan distro-distro tersebut. Tapi setelah menggunakan Slackware, secara tidak langsung saya seperti dipaksa untuk mempelajari sistem operasi LINUX. Jika Anda tidak percaya, cobalah sendiri.. hehehe
  6. Manajemen paket di Slackware lebih mudah dari distro lain
    Kalau orang bicara paket di linux, pasti terpikir juga istilah dependensi. Dependensi adalah paket lain yang dibutuhkan untuk menginstall paket yang dimaksud. Nah distro-distro seperti keluarga Debian menggunakan ekstensi .deb dan keluarga Red Hat menggunakan ekstensi .rpm untuk paketnya. Namun sayangnya manajemen paket-paket tersebut hanya berdampak pada kemudahan instalasi paket saja dan tidak membantu sama sekali dalam masalah dependensi. Nah, tidak demikian dengan Slackware. Slackware menawarkan manajemen paketnya yang berekstensi tgz, yang di dalamnya sudah dibundle dependensi dari aplikasi tersebut. Jadi kalau download paket tgz, tidak usah mikir dependensinya.. Asik sekali kan?
    Dan lagi, kita bisa membuat paket tgz sendiri menggunakan Slackbuild script, atau bisa langsung pakai Slackbuild scriptnya yang bisa didownload di http://slackbuilds.org/

Nah itu adalah alasan saya kenapa menggunakan Slackware. Tapi memilih distro juga merupakan selera. Jadi tetap pastikan oleh Anda sendiri, distro mana yang paling cocok buat Anda.

Sumber : slackware memang ok

Iklan

6 pemikiran pada “Kenapa Slackware?

  1. Sepertinya ada yang tidak tepat di sini, yaitu masalah dependensi paket. justru Slackwarelah yang paling payah dalam perihal dependensi paket, Slackware sama sekali tidak menyediakan manajemen dependensi. Pengguna slackware lebih percaya jika masalah dependensi dikendalikan sendiri oleh pengguna, bukan oleh manajer paket. Dependensi paket bukan kelebihan Slackware.

    Jika install paket txz, tgz, maupun, tarball, hanya diberitahukan dependensinya apa saja, selanjutnya mesti cari sendiri.

    Tapi saya juga suka keadaannya begini, lingkungan belajar jadi lebih luas. Dengan demikian, terkadang kita jadi hafal benar dependesi dari sebuah paket maupun fungsi2 dari setiap dependensi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s